Translate

oc6080743

at26968586

Rabu, 03 September 2025

Peran Wasilah dalam Kerohanian dan Ketuhanan – Apakah Dibutuhkan dan Apa urgensinya?

 Dalam era modern ini, teknologi berkembang pesat untuk memudahkan kehidupan manusia. Di samping itu, muncul pula kesadaran spiritual yang semakin mendalam, baik dalam dimensi kerohanian maupun ketuhanan. Perkembangan teknologi dan Kesadaran ini membawa dampak positif dalam membangun peradaban manusia menuju kesejahteraan, kebahagiaan, dan keseimbangan hidup lahir dan batin, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.  Dalam tulisan ini kita akan membahas “Peran Wasilah dalam Kerohanian dan Ketuhanan”, sebuah topik yang penting untuk dipahami di tengah meningkatnya kemajuan teknologi dan sains juga tentang kesadaran spiritual manusia.

Pendahuluan

Dalam era modern ini, teknologi berkembang pesat untuk memudahkan kehidupan manusia. Di samping itu, muncul pula kesadaran spiritual yang semakin mendalam, baik dalam dimensi kerohanian maupun ketuhanan. Perkembangan teknologi dan Kesadaran ini membawa dampak positif dalam membangun peradaban manusia menuju kesejahteraan, kebahagiaan, dan keseimbangan hidup lahir dan batin, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.

Dalam tulisan ini kita akan membahas “Peran Wasilah dalam Kerohanian dan Ketuhanan”, sebuah topik yang penting untuk dipahami di tengah meningkatnya kemajuan teknologi dan sains juga tentang kesadaran spiritual manusia.

Didalam agama2 setiap manusia diciptakan dengan tujuan yang agung: mengenal Tuhan dan kembali kepada-Nya.

Namun, perjalanan ini tidak mudah. Perkembangan teknologi dan sains, seolah2 menjadi penghalang yang seharusnya menjadi Rahmatilallamin, Rahmat untuk sekalian alam termasuk manusia yg diangkatnya sebagai Kalifah dimuka bumi. Ada rintangan berupa ego, hawa nafsu, godaan dunia, dan tipu daya setan dan selain itu yang paling terpenting adalah ketidak sinkronan tentang pemahaman terhadap tujuan dan semua yg telah diberikan baik petunjuk dan Daya / Tenaga / oleh Tuhan kepada manusia yg telah diangkatnya sebagai KalifahNya.

Tanpa panduan dan daya dari Tuhan, manusia mudah tersesat atau tidak sanggup menjalankan semua panduan yg telah dituliskan melalui kitab2nya tersebut. Tersesat disini maksudnya salah satunya adalah tidak mempunyai daya atau kekuatan yg ada didalam dirinya untuk mampu menjalani perjalanan panjang yang belum pernah dialaminya sampai akhir hayatnya walaupun aturan atau petunjuk telah diberikan kepadanya melalui para Nabi2, Rasul2nya.

Ini bisa dianalogikan seperti sebuah. pesawat canggih pembom supersonic dgn dilengkapi oleh technologi canggih yang akan tidak berdaya apabila tidak mempunyai energy / tenaga dari bahan bakar yang dibawa dan dimiliki oleh pesawat tersebut. 

Karena itu, Tuhan tidak membiarkan manusia berjalan sendirian, tetapi menyediakan jalan penghubung (Wasilah) agar manusia mampu:

  • Mengetahui kebenaran.
  • Memiliki kekuatan untuk mengamalkannya terus menerus sampai waktu yg tidak terbatas dan juga melawan godaan-godaan baik secara phisik maupun metaphisik, jasmani dan rohani, zahir dan bathin serta dunia dan akhirat.
  • Sampai kepada-Nya dengan selamat.

Apa itu Wasilah? Mengapa mutlak diperlukan? Bagaimana Wasilah menyalurkan petunjuk dan daya ilahi? Apakah konsep ini ada di agama lain? Dan bagaimana cara menyambung ke Wasilah?

Artikel ini menjawab semua pertanyaan itu dengan dalil Al-Qur’an, hadits, kitab-kitab samawi, dan teks-teks suci agama lain, agar menjadi kajian universal yang menguatkan keyakinan.


Konsep Wasilah dalam Islam

Dalam Islam, Wasilah adalah jalan penghubung menuju Allah. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah Wasilah untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung."
(QS. Al-Maidah: 35)

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa mati tanpa mengenal imam zamannya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah."
(HR. Muslim)

Ini menegaskan pentingnya jalur sambungan ruhani kepada pewaris Nabi.

Islam juga menekankan bahwa Wasilah bukan hanya pembawa petunjuk, tetapi juga pembawa kekuatan (daya ilahi). Sebagaimana Nabi Musa ‘alaihis salam tidak bisa membelah laut tanpa tongkat (wasilah) yang diberi daya oleh Allah SWT.

Begitu juga Nabi Muhammad SAW, dalam melakukan perjalanan Isra’ dam Mi’rajnya, tanpa daya atau energi yg tidak berhingga maka tidak akan dapat melakukan perjalanan panjang sampai ke Tuhannya dan kembali lagi ke dunia.

Allah juga berfirman:

"Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan baginya seorang penolong (Waliyam Murshida)."

(QS. Al-Kahfi: 17)

Ayat ini menunjukkan peran Wali Murshid sebagai penghubung daya dan petunjuk ilahi.


Wasilah dalam Agama Kristen

Dalam kekristenan, konsep penghubung ini sangat kuat. Yesus Kristus dianggap sebagai satu-satunya penghubung (mediator) antara manusia dan Tuhan.

Dalam Perjanjian Baru:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

(Yohanes 14:6)

Paulus menulis:

“Karena Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”

(1 Timotius 2:5)

Ini adalah konsep Wasilah yang jelas: manusia tidak bisa langsung kepada Tuhan tanpa melalui penghubung yang ditetapkan-Nya.

Selain Yesus, dalam tradisi Katolik ada para santo dan santa yang diyakini sebagai pengantara doa (intercessors) karena kedekatan mereka kepada Tuhan. Ini mirip dengan konsep Wali dalam Islam.


Wasilah dalam Agama Hindu

Dalam Hindu, dikenal konsep Guru atau Satguru. Bhagavad Gita menegaskan pentingnya seorang Guru spiritual:

“Carilah pengetahuan ini dengan bersujud, dengan bertanya, dan dengan pelayanan; para bijak yang telah melihat kebenaran akan mengajarkan kepadamu pengetahuan itu.”

(Bhagavad Gita 4:34)

Di sini terlihat jelas bahwa hubungan guru-murid adalah wasilah untuk sampai kepada Tuhan (Brahman). Bahkan, dalam Upanishad, dikatakan bahwa tanpa guru, ilmu spiritual hanya akan menjadi teori yang mati.


Wasilah dalam Agama Buddha

Dalam Buddhisme, meskipun tidak mengenal Tuhan dalam pengertian personal, konsep penghubung tetap ada. Buddha Gautama menekankan Sangha (komunitas guru dan bhikkhu) sebagai jalan untuk pencerahan.

Dalam Dhammapada:

“Jangan berjalan sendirian di jalan spiritual, carilah teman bijak yang dapat menuntunmu.”
(Dhammapada 61)

Tanpa bimbingan seorang guru (Lama, dalam tradisi Tibet), seorang praktisi hampir mustahil mencapai Nirvana. Ini sejajar dengan konsep Murshid dalam tasawuf.


Kesamaan Konsep Wasilah dalam Agama-Agama

Jika kita perhatikan:

  • Islam: Wasilah adalah Nabi, Rasul, dan pewaris mereka (Wali/Murshid).
  • Kristen: Wasilah adalah Yesus Kristus, bahkan santo/santa sebagai perantara doa.
  • Hindu: Wasilah adalah Satguru yang membimbing.
  • Buddha: Wasilah adalah Guru dan Sangha sebagai pengantar pencerahan.

Kesimpulannya: Semua agama sepakat tidak ada manusia yang bisa sampai kepada Tuhan atau pencerahan tanpa bimbingan seorang penghubung yang ditetapkan oleh Tuhan atau oleh tradisi suci.


Mengapa Wasilah Bukan Sekadar Petunjuk, Tapi Juga Daya Ilahi

Semua kitab suci menekankan manusia lemah tanpa daya Tuhan.

  • Islam: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.” (Laa hawla wa laa quwwata illa billah)
  • Kristen: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5)
  • Hindu: “Aku adalah kekuatan dalam semua makhluk yang hidup.” (Bhagavad Gita 7:8)

Daya ini tidak turun langsung ke semua orang, melainkan melalui jalur Wasilah. Seperti listrik yang butuh kabel, energi Tuhan butuh saluran yang bersih agar manusia mampu menerimanya.

Selain dari itu banyak orang mengira Wasilah hanya memberi petunjuk berupa ilmu dan aturan. Padahal dari segi sains atau teknologi lebih dari itu, Wasilah juga mengalirkan energi Ilahi (spiritual power) yang menjaga, menguatkan, memberi keberkahan dan yg lebih penting lagi adalah energy ini bisa membawa hambanya untuk menuju dan kembali kepada Tuhannya Allah Swt, yaitu perjalanan yang berawal dari alam phisik kealam metaphisik (Rohani, bathiniah) atau alam kasar menuju alam yang lebih halus dari dimensi yg dapat dilihat sampai ke dimensi yg tidak dapat dilihat (tidak berbentuk dan tidak bersuara tetapi hanya dapat dirasa yang   mempunyai energy yg maha dasyat tak terhingga yang membentuk alam jagat raya ini). Tanpa energi ini, ilmu tidak bermanfaat, pentunjuk hanya sekedar petunjuk yg hanya ada dan menjadi cerita dan tidak bisa direalisasikan atau juga hanya menjadi keyakinan atau kepercayaan yang tidak bisa dibuktikan dan menjadi suatu dogma cerita semata.

Walaupun begitu “Petunjuk atau Guide” juga sangat dibutuhkan, karena untuk mendapatkan, menyalurkan dan memanfaatkan Daya atau Energi yang Tak berhingga dari Allah SWT ini tanpa adanya petunjuk maka Daya atau Energi yang tak berhingga ini kemungkinannya tidak akan didapat dan dimanfaatkan oleh manusia atau kemungkinan lain apabila didapat daya atau energi ini dapat disalah gunakan yang dapat merusak atau memusnakan semua mahluk atau alam semesta ini. Petunjuk dan Daya ini mutlak harus diturunkan bersamaan sehingga menjadi Rahmatilallamin.

Bayangkan listrik: kita tahu ada pabrik listrik (power plant), tapi tanpa kabel, trafo, dan jaringan distribusi, energi tidak sampai ke rumah. Sama halnya, tanpa Wasilah, manusia seperti peralatan elektronik tanpa daya—punya bentuk tapi tidak berfungsi.

Dalam Islam, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”

(HR. Abu Dawud)

Artinya, setelah Nabi, para pewaris (wali, ulama sejati) adalah saluran energi Ilahi. Mereka bukan hanya guru teori, tapi transformator spiritual yang menyalurkan daya dari sumber utama (Allah).

Harus diingat, bahwa listrik tidak sama dengan kabel, listrik tetap listrik dan kabel adalah tetap kabel, tetapi listrik membutuhkan kabel dan tanpa kabel maka listrik tidak akan sampai kepada tujuan seperti menghidupkan lampu, mendinginkan AC, menjalankan motor, mobil dan juga peralatan yg lain2nya. Begitu juga kabel, dia tidak akan punya daya untuk menghidupkan peralatan2 tersebut. Keduanya berbeda tetapi saling membutuhkan dan kedua-duanya harus bersinergi agar peralatan yg menggunakan dapat berfungsi sesuai dengan kegunaannya.

Begitu juga wasilah atau Nabi2, Rasul2 atau Pewaris2 atau Penerus2nya berbeda dengan Tuhannya tetapi mereka saling bersinergi. Yg satu kekal dan abadi dan yg satunya silih berganti secara estafet saling menyambung yg membawa dan menyalurkan tenaga, daya atau energy dari Tuhannya sampai saat ini.


Apa Jadinya Jika Tanpa Wasilah?

Hidup tanpa Wasilah = hidup tanpa arah dan tanpa daya.

Contoh:

  • Tahu rokok haram, tapi tetap merokok (ilmu ada, daya tidak ada).
  • Tahu sabar itu wajib, tapi tetap marah (ilmu ada, daya tidak ada).

Kitab-kitab suci juga memperingatkan bahaya ini:

  • Islam: “Barangsiapa mati tanpa imam, mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim)
  • Kristen: “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang seperti ranting dan menjadi kering.” (Yohanes 15:6)
  • Hindu: “Tanpa guru, seseorang tidak dapat mencapai pengetahuan yang benar.” (Upanishad)
  • Buddha: “Jangan berjalan sendiri di jalan ini.” (Dhammapada)

Bagaimana Menyambung Kepada Wasilah?

Prinsip umum di semua agama:

  1. Cari penghubung yang sah dan tersambung (Murshid, Guru, Yesus, Lama).
  2. Dekati dengan kerendahan hati dan niat ikhlas.
  3. Ambil janji setia atau ikatan spiritual (baiat dalam Islam, baptisan dalam Kristen, diksha dalam Hindu).
  4. Amalkan bimbingannya dengan istiqamah.

 

Dalam Agama Islam Allah SWT berfirman:

"Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan baginya seorang penolong (Waliyam Murshida)."

(QS. Al-Kahfi: 17)

Ayat ini menegaskan pentingnya “Wasilah”  atau “Wali yang Murshid” — seorang pembimbing yang telah tersambung kepada sumber daya ilahi melalui rantai pewarisan spiritual dari Rasulullah ﷺ.


Kesimpulan

Wasilah adalah kebutuhan spiritual yang ditetapkan oleh Allah. Tidak mungkin manusia sampai kepada Allah tanpa jalan yang Allah tetapkan. Wasilah ini bukan berarti menyekutukan Allah, tetapi justru mengikuti aturan-Nya.

Sebagaimana firman Allah:

“Jika mereka ketika menzalimi diri mereka datang kepadamu (wahai Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisā’: 64)

Maka, peran wasilah dalam kerohanian dan ketuhanan adalah sangat urgen, agar manusia tetap berada di jalan yang benar menuju Allah dan mendapatkan kekuatan / tenaga / daya / energy untuk menjalaninya sampai dan kembali kepada Tuhannya.

Dari sinillah kita bisa mengambil kesimpulan apakah berguna dan urgensinya yaitu sebagai berikut:

  • Wasilah adalah jalan penghubung yang membawa petunjuk dan daya ilahi.
  • Semua agama besar menegaskan tidak bisa sampai kepada Tuhan tanpa penghubung.
  • Tanpa Wasilah, manusia akan lemah, tersesat, dan menuju kehancuran.

·  Cara selamat adalah menyambung ke Wasilah yang sah dan mengikuti bimbingannya (QS. Al-Kahfi: 17) "Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan baginya seorang penolong (Waliyam Murshida)."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

prtc

at26968586

oc6080741

at26998406