Pendahuluan
Sejarah mencatat bahwa agama, kitab
suci, dan kesadaran spiritual tidak hanya menjadi wacana, melainkan pernah menghadirkan
masa kejayaan besar bagi umat manusia. Dalam periode tertentu, nilai-nilai
Ilahi bukan sekadar teks, melainkan energi nyata yang menggerakkan kehidupan
sosial, politik, dan peradaban.
Kitab suci
menjadi pedoman, sementara daya Ilahi (energi transenden) menjadi penggeraknya.
Peradaban Islam pada masa keemasan (abad 8–13 M), Eropa pada era Renaissance
yang dipengaruhi ajaran Kristen, dan India dengan warisan spiritual
Hindu-Buddha, menunjukkan bagaimana agama pernah menjadi kekuatan transformasi besar.
Pada masa kejayaannya, nilai-nilai
agama tidak hanya menjadi pedoman moral, tetapi juga menghadirkan mukjizat
nyata yang menunjukkan betapa daya Ilahi mampu menembus batas-batas
rasionalitas manusia.
Contoh konkret bisa dilihat dari
kisah para nabi dan rasul:
- Nabi Ibrahim AS
yang selamat ketika dibakar oleh Raja Namrud; api yang seharusnya membakar
justru menjadi dingin dan menyelamatkan (QS. Al-Anbiya: 69).
- Nabi Musa AS
yang mampu membelah Laut Merah dengan tongkatnya atas izin Allah sehingga
Bani Israil selamat dari kejaran Firaun (QS. Asy-Syu’ara: 63).
- Nabi Muhammad ﷺ
yang menempuh perjalanan Isra’ Mi’raj dalam satu malam, pulang pergi dari
Makkah ke Baitul Maqdis lalu naik ke Sidratul Muntaha, sebuah jarak yang
bahkan dengan teknologi modern tidak mungkin dilakukan, tetapi
dimungkinkan oleh daya Ilahi yang tak terhingga (QS. Al-Isra: 1).
- Dalam tradisi Kristen, Yesus Kristus mampu
menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penderita lepra, bahkan
membangkitkan orang mati (Injil Yohanes 11:43-44).
- Dalam Hindu, kisah Krishna menyingkirkan gunung
Govardhana dengan jarinya untuk melindungi rakyat dari banjir (Bhagavata
Purana 10.25).
- Dalam Buddhisme, berbagai teks menceritakan Siddharta
Gautama mencapai pencerahan sempurna setelah bermeditasi di bawah
pohon Bodhi, melampaui hukum-hukum batin manusia biasa.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa daya
Ilahi yang tak terbatas pernah hadir secara nyata, bukan sekadar cerita.
Kekuatan itu menegaskan bahwa kitab suci tidak hanya kumpulan kata, tetapi
panduan hidup yang didukung oleh energi spiritual yang nyata.
Namun, pertanyaannya: Apakah kekuatan
itu masih hidup dalam diri manusia modern, ataukah kini hanya tinggal sejarah
yang tersimpan dalam teks kitab suci dan pikiran manusia? Apakah dunia
sudah terputus dari sumber kekuatan Ilahi, ataukah masih ada jalan untuk
menyambungkannya kembali?
Tulisan ini bertujuan membuka
wawasan ilmiah dan spiritual dengan mengaitkan sejarah, agama, kitab-kitab,
sains, dan kondisi modern. Fokusnya bukan untuk mengklaim satu agama lebih
benar dari yang lain, tetapi untuk mencari pemahaman universal: bahwa manusia
membutuhkan sinergi petunjuk (kitab suci) dan energi (daya Ilahi)
agar hidup tetap tersambung dengan sumber kekuatan sejati.
Kondisi
Dunia Saat Ini
1.
Penyiaran Agama dan Spiritualitas yang Melemah
Meskipun agama terus disiarkan
melalui masjid, gereja, pura, vihara, sekolah, universitas, hingga media
sosial, dampaknya sering dianggap tumpul. Bukan solusi, tetapi terkadang
menimbulkan konflik antaragama atau bahkan perpecahan internal
karena perbedaan tafsir.
Alih-alih menguatkan nilai kasih,
persaudaraan, dan cinta, sebagian justru memperlihatkan wajah keras agama:
saling memaksakan keyakinan, politik identitas, hingga peperangan yang
mengatasnamakan Tuhan. Akibatnya, agama dipersepsikan sebagian orang hanya
sebagai cerita lama yang kehilangan daya transformasi.
2.
Tuhan dalam Bayangan Teknologi
Manusia modern lebih mengenal
“Tuhan” lewat ciptaan-Nya, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun,
alih-alih digunakan untuk kembali pada Sang Pencipta, teknologi justru sering
dimanfaatkan untuk:
- Ekonomi dan keserakahan – tanpa uang atau harta tidak akan dapat hidup, uang dan harta menjadi syarat mutlak untuk hidup, pamer kekayaan, kehidupan hedonisme, eksploitasi alam, ketidakadilan distribusi,
kapitalisme ekstrem.
- Kekuasaan dan politik
– propaganda digital, manipulasi informasi, kontrol sosial melalui
kecerdasan buatan.
- Perang dan kehancuran
– bom nuklir, senjata biologis, drone militer, dan teknologi persenjataan
mutakhir.
Contoh nyata: senjata nuklir
yang memiliki kekuatan melampaui daya alam biasa. Jika jatuh di tangan yang
salah, teknologi ini dapat memusnahkan kehidupan dalam skala besar. Begitu juga
dengan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi memberi manfaat besar, tetapi
juga membawa risiko kehilangan kendali.
3.
Meningkatnya Atheisme dan Krisis Moral
Laporan Pew Research Center (2021)
menunjukkan peningkatan signifikan jumlah orang yang tidak berafiliasi dengan
agama (atheis, agnostik, atau nones). Di Eropa Barat,
misalnya, lebih dari 60% generasi muda tidak lagi terikat dengan tradisi agama
formal.
Fenomena ini bersamaan dengan krisis
moral global:
- Korupsi merajalela meski negara mengaku religius.
- Kriminalitas, perjudian, narkoba meningkat terutama di
kota-kota besar.
- Konsumerisme membuat manusia dihargai hanya dari
kepentingan ekonomi.
- Kekerasan antar manusia karena kepentingan politik dan
ekonomi.
📊 Grafik 1: Perkembangan populasi non-religius di dunia
(Pew Research, 2021)
4.
Ilmu Pengetahuan Tanpa Spiritualitas
Sains berkembang pesat dalam bidang
fisika, biologi, kedokteran, dan teknologi digital. Namun, tanpa spiritualitas,
ia sering kehilangan arah etis.
- Fisika nuklir menghasilkan energi, tetapi juga bom
atom.
- Bioteknologi dapat menyembuhkan penyakit, tetapi juga
bisa menciptakan senjata biologis.
- AI dapat membantu pendidikan, tetapi juga menimbulkan
masalah etika dan pengangguran massal.
Sains mampu menjawab pertanyaan
“bagaimana”, tetapi tidak selalu menjawab “untuk apa”. Tanpa petunjuk moral,
teknologi menjadi pedang bermata dua.
📊 Grafik 2: Perkembangan teknologi vs moralitas global
(ilustratif)
Apakah
Dunia Sudah Terputus dari Tuhan?
Pertanyaan penting muncul: Apakah
dunia telah kehilangan sambungan dengan energi Ilahi?
Jika benar terputus, akibatnya
jelas: hilangnya arah, runtuhnya moralitas, dan hancurnya keharmonisan alam.
Namun, jika belum terputus, bagaimana cara manusia menyambungkannya kembali?
Dalam agama-agama besar, ditegaskan
bahwa manusia hanya memiliki daya karena adanya energi Ilahi:
- Islam:
“Laa hawla wa laa quwwata illa billah” – tidak ada daya dan kekuatan
kecuali dengan Allah.
- Kristen:
“Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5).
- Hindu:
“Aku adalah kekuatan dalam semua makhluk yang hidup.” (Bhagavad Gita 7:8).
- Buddha:
Kesadaran sejati dicapai hanya dengan melepas ego dan menyatu dengan
Dharma.
Energi Ilahi ini tidak datang
otomatis kepada semua orang. Ia membutuhkan wasilah (perantara), seperti
listrik yang butuh kabel, trafo, dan jaringan distribusi.
Untuk mendapatkan "Petunjuk" juga dibutuhkan Energi Illahi, tanpa Energi Illahi Petunjuk tidak akan turun dan juga untuk menjalankan Petunjuk juga dibutuhkan energi, tanpa energi petunjuk hanya tinggal kata-kata atau hanya tulisan dan dongeng semata.
Keduanya turun dalam 1 paket, Energi Illahi juga jika diturunkan tanpa "Petunjuk" akan tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan dan yg akan terjadi adalah ketidak beraturan, alam menjadi rusak, moralitas berkembang, keserakahan dan lain-lainnya berkembang dan kehancuran dunia akan menjadi sesuatu yang tidak dapat dicegah.
ini adalah kunci utama dan kebutuhan mutlak manusia bukan hanya hidup pada zaman-zaman dimasa jayanya Agama, Kitab2 dllnya tetapi harus tetap eksis sampai sekarang ini dan masa2 yg akan berlanjut sampai Sang Pencipta berkehendak.
Analogi
Ilmiah: Petunjuk dan Energi
Kitab suci berfungsi sebagai manual
guide. Namun petunjuk saja tidak cukup tanpa energi penggerak.
Analogi listrik:
- Pembangkit listrik
= Sumber energi Ilahi.
- Kabel & trafo
= Wasilah (nabi, rasul, ulama sejati, orang bijak).
- Peralatan elektronik
= Kehidupan manusia.
Tanpa listrik, peralatan hanyalah
benda mati. Tanpa wasilah, energi Ilahi tidak tersalur. Demikian juga, tanpa
energi spiritual, kitab suci hanyalah tulisan tanpa kekuatan transformasi.
Jalan
Kembali: Integrasi Ilmu, Agama, dan Spiritualitas
Agar dunia tidak terputus dari
sumber kekuatan Ilahi, dibutuhkan sinergi:
- Menghidupkan Kesadaran Spiritual
- Islam: dzikrullah (QS.
Ar-Ra’d: 28).
- Kristen: doa & kasih
sebagai inti ajaran Yesus.
- Hindu-Buddha: meditasi &
yoga untuk kesadaran jiwa.
- Memahami Wasilah sebagai Saluran Energi
Ulama, guru spiritual, atau pemimpin sejati bukan sekadar
pengajar teori, melainkan transformator spiritual yang menyalurkan
energi Ilahi.
- Mengembalikan Sains pada Etika
Teknologi harus diarahkan untuk: menjaga lingkungan,
meningkatkan martabat manusia, dan memakmurkan bumi.
- Membangun Moralitas Global
Melalui dialog antaragama, etika universal, dan pendidikan
moral, dunia bisa menciptakan peradaban yang maju sekaligus beradab.
Kesimpulan
Agama, kitab suci, dan spiritualitas
tidak boleh hanya tinggal sejarah. Tanpa energi Ilahi, semua itu
hanyalah kata-kata kosong. Namun, dengan sinergi antara petunjuk (kitab)
dan daya (energi Ilahi), dunia dapat kembali tersambung dengan sumber
kekuatan sejati.
Seperti benda yang terus bergerak
jika masih memiliki energi, dunia hanya akan berjalan harmonis jika manusia
tetap tersambung pada daya Ilahi yang tak terbatas.
Jika terputus, manusia akan terjebak
dalam kesalahan tafsir, penyalahgunaan ilmu, dan kehancuran moralitas. Namun,
jika tersambung, manusia bisa mencapai kembali masa kejayaan seperti pada
sejarah para nabi dan peradaban agung.
Referensi
- Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah: 30, QS. Al-Anbiya:
69, QS. Asy-Syu’ara: 63, QS. Al-Isra: 1.
- Alkitab: Yohanes 15:5; Kejadian 1:27.
- Bhagavad Gita 7:8.
- Tripitaka (ajaran Buddha).
- Bhagavata Purana 10.25.
- HR. Abu Dawud: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris
para nabi.”
- Pew Research Center (2021), The Future of World
Religions.
- Karen Armstrong (2009), The Case for God.
- Fritjof Capra (1982), The Turning Point.
