Translate

oc6080743

at26968586

Jumat, 05 September 2025

AGAMA, KITAB, KEPERCAYAAN KEPADA TUHAN, DAN KESADARAN SPIRITUAL: Apakah Kini Hanya Tinggal Sejarah dalam Pikiran Manusia?

Sejak awal peradaban, agama, kitab suci, dan kesadaran spiritual menjadi fondasi utama yang membentuk perilaku, moralitas, dan sistem sosial umat manusia. Kitab suci berfungsi sebagai pedoman, sementara spiritualitas menjadi energi yang memberi kehidupan pada pedoman itu. Menurut keyakinan berbagai agama, manusia adalah makhluk istimewa yang dipilih untuk menerima sekaligus menyalurkan kekuatan Ilahi.
"Cari dan dapatkanlah apa yang dibutuhkan oleh dirimu selama engkau masih hidup, jika tidak engkau akan hidup merana (tidak pernah puas) selamanya walaupun engkau telah tiada" 

Oleh Ahmad Fakar

Pendahuluan

Sejarah mencatat bahwa agama, kitab suci, dan kesadaran spiritual tidak hanya menjadi wacana, melainkan pernah menghadirkan masa kejayaan besar bagi umat manusia. Dalam periode tertentu, nilai-nilai Ilahi bukan sekadar teks, melainkan energi nyata yang menggerakkan kehidupan sosial, politik, dan peradaban.

Kitab suci menjadi pedoman, sementara daya Ilahi (energi transenden) menjadi penggeraknya. Peradaban Islam pada masa keemasan (abad 8–13 M), Eropa pada era Renaissance yang dipengaruhi ajaran Kristen, dan India dengan warisan spiritual Hindu-Buddha, menunjukkan bagaimana agama pernah menjadi kekuatan transformasi besar.

Pada masa kejayaannya, nilai-nilai agama tidak hanya menjadi pedoman moral, tetapi juga menghadirkan mukjizat nyata yang menunjukkan betapa daya Ilahi mampu menembus batas-batas rasionalitas manusia.

Contoh konkret bisa dilihat dari kisah para nabi dan rasul:

  • Nabi Ibrahim AS yang selamat ketika dibakar oleh Raja Namrud; api yang seharusnya membakar justru menjadi dingin dan menyelamatkan (QS. Al-Anbiya: 69).
  • Nabi Musa AS yang mampu membelah Laut Merah dengan tongkatnya atas izin Allah sehingga Bani Israil selamat dari kejaran Firaun (QS. Asy-Syu’ara: 63).
  • Nabi Muhammad ﷺ yang menempuh perjalanan Isra’ Mi’raj dalam satu malam, pulang pergi dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu naik ke Sidratul Muntaha, sebuah jarak yang bahkan dengan teknologi modern tidak mungkin dilakukan, tetapi dimungkinkan oleh daya Ilahi yang tak terhingga (QS. Al-Isra: 1).
  • Dalam tradisi Kristen, Yesus Kristus mampu menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penderita lepra, bahkan membangkitkan orang mati (Injil Yohanes 11:43-44).
  • Dalam Hindu, kisah Krishna menyingkirkan gunung Govardhana dengan jarinya untuk melindungi rakyat dari banjir (Bhagavata Purana 10.25).
  • Dalam Buddhisme, berbagai teks menceritakan Siddharta Gautama mencapai pencerahan sempurna setelah bermeditasi di bawah pohon Bodhi, melampaui hukum-hukum batin manusia biasa.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa daya Ilahi yang tak terbatas pernah hadir secara nyata, bukan sekadar cerita. Kekuatan itu menegaskan bahwa kitab suci tidak hanya kumpulan kata, tetapi panduan hidup yang didukung oleh energi spiritual yang nyata.

Namun, pertanyaannya: Apakah kekuatan itu masih hidup dalam diri manusia modern, ataukah kini hanya tinggal sejarah yang tersimpan dalam teks kitab suci dan pikiran manusia? Apakah dunia sudah terputus dari sumber kekuatan Ilahi, ataukah masih ada jalan untuk menyambungkannya kembali?

Tulisan ini bertujuan membuka wawasan ilmiah dan spiritual dengan mengaitkan sejarah, agama, kitab-kitab, sains, dan kondisi modern. Fokusnya bukan untuk mengklaim satu agama lebih benar dari yang lain, tetapi untuk mencari pemahaman universal: bahwa manusia membutuhkan sinergi petunjuk (kitab suci) dan energi (daya Ilahi) agar hidup tetap tersambung dengan sumber kekuatan sejati.


Kondisi Dunia Saat Ini

1. Penyiaran Agama dan Spiritualitas yang Melemah

Meskipun agama terus disiarkan melalui masjid, gereja, pura, vihara, sekolah, universitas, hingga media sosial, dampaknya sering dianggap tumpul. Bukan solusi, tetapi terkadang menimbulkan konflik antaragama atau bahkan perpecahan internal karena perbedaan tafsir.

Alih-alih menguatkan nilai kasih, persaudaraan, dan cinta, sebagian justru memperlihatkan wajah keras agama: saling memaksakan keyakinan, politik identitas, hingga peperangan yang mengatasnamakan Tuhan. Akibatnya, agama dipersepsikan sebagian orang hanya sebagai cerita lama yang kehilangan daya transformasi.


2. Tuhan dalam Bayangan Teknologi

Manusia modern lebih mengenal “Tuhan” lewat ciptaan-Nya, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, alih-alih digunakan untuk kembali pada Sang Pencipta, teknologi justru sering dimanfaatkan untuk:

  • Ekonomi dan keserakahan – tanpa uang atau harta tidak akan dapat hidup, uang dan harta menjadi syarat mutlak untuk hidup, pamer kekayaan, kehidupan hedonisme, eksploitasi alam, ketidakadilan distribusi, kapitalisme ekstrem.
  • Kekuasaan dan politik – propaganda digital, manipulasi informasi, kontrol sosial melalui kecerdasan buatan.
  • Perang dan kehancuran – bom nuklir, senjata biologis, drone militer, dan teknologi persenjataan mutakhir.

Contoh nyata: senjata nuklir yang memiliki kekuatan melampaui daya alam biasa. Jika jatuh di tangan yang salah, teknologi ini dapat memusnahkan kehidupan dalam skala besar. Begitu juga dengan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi memberi manfaat besar, tetapi juga membawa risiko kehilangan kendali.


3. Meningkatnya Atheisme dan Krisis Moral

Laporan Pew Research Center (2021) menunjukkan peningkatan signifikan jumlah orang yang tidak berafiliasi dengan agama (atheis, agnostik, atau nones). Di Eropa Barat, misalnya, lebih dari 60% generasi muda tidak lagi terikat dengan tradisi agama formal.

Fenomena ini bersamaan dengan krisis moral global:

  • Korupsi merajalela meski negara mengaku religius.
  • Kriminalitas, perjudian, narkoba meningkat terutama di kota-kota besar.
  • Konsumerisme membuat manusia dihargai hanya dari kepentingan ekonomi.
  • Kekerasan antar manusia karena kepentingan politik dan ekonomi.

📊 Grafik 1: Perkembangan populasi non-religius di dunia (Pew Research, 2021)


4. Ilmu Pengetahuan Tanpa Spiritualitas

Sains berkembang pesat dalam bidang fisika, biologi, kedokteran, dan teknologi digital. Namun, tanpa spiritualitas, ia sering kehilangan arah etis.

  • Fisika nuklir menghasilkan energi, tetapi juga bom atom.
  • Bioteknologi dapat menyembuhkan penyakit, tetapi juga bisa menciptakan senjata biologis.
  • AI dapat membantu pendidikan, tetapi juga menimbulkan masalah etika dan pengangguran massal.

Sains mampu menjawab pertanyaan “bagaimana”, tetapi tidak selalu menjawab “untuk apa”. Tanpa petunjuk moral, teknologi menjadi pedang bermata dua.

📊 Grafik 2: Perkembangan teknologi vs moralitas global (ilustratif)



Apakah Dunia Sudah Terputus dari Tuhan?

Pertanyaan penting muncul: Apakah dunia telah kehilangan sambungan dengan energi Ilahi?

Jika benar terputus, akibatnya jelas: hilangnya arah, runtuhnya moralitas, dan hancurnya keharmonisan alam. Namun, jika belum terputus, bagaimana cara manusia menyambungkannya kembali?

Dalam agama-agama besar, ditegaskan bahwa manusia hanya memiliki daya karena adanya energi Ilahi:

  • Islam: “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” – tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.
  • Kristen: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5).
  • Hindu: “Aku adalah kekuatan dalam semua makhluk yang hidup.” (Bhagavad Gita 7:8).
  • Buddha: Kesadaran sejati dicapai hanya dengan melepas ego dan menyatu dengan Dharma.

Energi Ilahi ini tidak datang otomatis kepada semua orang. Ia membutuhkan wasilah (perantara), seperti listrik yang butuh kabel, trafo, dan jaringan distribusi.

Untuk mendapatkan "Petunjuk" juga dibutuhkan Energi Illahi, tanpa Energi Illahi Petunjuk tidak akan turun dan juga untuk menjalankan Petunjuk juga dibutuhkan energi, tanpa energi petunjuk hanya tinggal kata-kata atau hanya tulisan dan dongeng semata.

Keduanya turun dalam 1 paket, Energi Illahi juga jika diturunkan tanpa "Petunjuk" akan tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan dan yg akan terjadi adalah ketidak beraturan, alam menjadi rusak, moralitas berkembang, keserakahan dan lain-lainnya berkembang dan kehancuran dunia akan menjadi sesuatu yang tidak dapat dicegah.  

ini adalah kunci utama dan kebutuhan mutlak manusia bukan hanya hidup pada zaman-zaman dimasa jayanya Agama, Kitab2 dllnya tetapi harus tetap eksis sampai sekarang ini dan masa2 yg akan berlanjut  sampai Sang Pencipta berkehendak. 


Analogi Ilmiah: Petunjuk dan Energi

Kitab suci berfungsi sebagai manual guide. Namun petunjuk saja tidak cukup tanpa energi penggerak.

Analogi listrik:

  • Pembangkit listrik = Sumber energi Ilahi.
  • Kabel & trafo = Wasilah (nabi, rasul, ulama sejati, orang bijak).
  • Peralatan elektronik = Kehidupan manusia.

Tanpa listrik, peralatan hanyalah benda mati. Tanpa wasilah, energi Ilahi tidak tersalur. Demikian juga, tanpa energi spiritual, kitab suci hanyalah tulisan tanpa kekuatan transformasi.


Jalan Kembali: Integrasi Ilmu, Agama, dan Spiritualitas

Agar dunia tidak terputus dari sumber kekuatan Ilahi, dibutuhkan sinergi:

  1. Menghidupkan Kesadaran Spiritual
    • Islam: dzikrullah (QS. Ar-Ra’d: 28).
    • Kristen: doa & kasih sebagai inti ajaran Yesus.
    • Hindu-Buddha: meditasi & yoga untuk kesadaran jiwa.
  2. Memahami Wasilah sebagai Saluran Energi

Ulama, guru spiritual, atau pemimpin sejati bukan sekadar pengajar teori, melainkan transformator spiritual yang menyalurkan energi Ilahi.

  1. Mengembalikan Sains pada Etika

Teknologi harus diarahkan untuk: menjaga lingkungan, meningkatkan martabat manusia, dan memakmurkan bumi.

  1. Membangun Moralitas Global

Melalui dialog antaragama, etika universal, dan pendidikan moral, dunia bisa menciptakan peradaban yang maju sekaligus beradab.


Kesimpulan

Agama, kitab suci, dan spiritualitas tidak boleh hanya tinggal sejarah. Tanpa energi Ilahi, semua itu hanyalah kata-kata kosong. Namun, dengan sinergi antara petunjuk (kitab) dan daya (energi Ilahi), dunia dapat kembali tersambung dengan sumber kekuatan sejati.

Seperti benda yang terus bergerak jika masih memiliki energi, dunia hanya akan berjalan harmonis jika manusia tetap tersambung pada daya Ilahi yang tak terbatas.

Jika terputus, manusia akan terjebak dalam kesalahan tafsir, penyalahgunaan ilmu, dan kehancuran moralitas. Namun, jika tersambung, manusia bisa mencapai kembali masa kejayaan seperti pada sejarah para nabi dan peradaban agung.


Referensi

  • Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah: 30, QS. Al-Anbiya: 69, QS. Asy-Syu’ara: 63, QS. Al-Isra: 1.
  • Alkitab: Yohanes 15:5; Kejadian 1:27.
  • Bhagavad Gita 7:8.
  • Tripitaka (ajaran Buddha).
  • Bhagavata Purana 10.25.
  • HR. Abu Dawud: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”
  • Pew Research Center (2021), The Future of World Religions.
  • Karen Armstrong (2009), The Case for God.
  • Fritjof Capra (1982), The Turning Point.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

prtc

at26968586

oc6080741

at26998406