Pendahuluan
Dalam era modern ini, teknologi
berkembang pesat untuk memudahkan kehidupan manusia. Di samping itu, muncul
pula kesadaran spiritual yang semakin mendalam, baik dalam dimensi kerohanian
maupun ketuhanan. Perkembangan teknologi dan Kesadaran ini membawa dampak
positif dalam membangun peradaban manusia menuju kesejahteraan, kebahagiaan,
dan keseimbangan hidup lahir dan batin, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.
Dalam tulisan ini kita akan membahas
“Peran Wasilah dalam Kerohanian dan Ketuhanan”, sebuah topik yang
penting untuk dipahami di tengah meningkatnya kemajuan teknologi dan sains juga
tentang kesadaran spiritual manusia.
Didalam agama2 setiap manusia
diciptakan dengan tujuan yang agung: mengenal Tuhan dan kembali kepada-Nya.
Namun, perjalanan ini tidak mudah. Perkembangan
teknologi dan sains, seolah2 menjadi penghalang yang seharusnya menjadi Rahmatilallamin,
Rahmat untuk sekalian alam termasuk manusia yg diangkatnya sebagai Kalifah
dimuka bumi. Ada rintangan berupa ego, hawa nafsu, godaan dunia, dan tipu
daya setan dan selain itu yang paling terpenting adalah ketidak sinkronan
tentang pemahaman terhadap tujuan dan semua yg telah diberikan baik petunjuk
dan Daya / Tenaga / oleh Tuhan kepada manusia yg telah diangkatnya sebagai KalifahNya.
Tanpa panduan dan daya dari Tuhan,
manusia mudah tersesat atau tidak sanggup menjalankan semua panduan yg telah
dituliskan melalui kitab2nya tersebut. Tersesat disini maksudnya salah satunya
adalah tidak mempunyai daya atau kekuatan yg ada didalam dirinya untuk mampu
menjalani perjalanan panjang yang belum pernah dialaminya sampai akhir hayatnya
walaupun aturan atau petunjuk telah diberikan kepadanya melalui para Nabi2,
Rasul2nya.
Ini bisa dianalogikan seperti
sebuah. pesawat canggih pembom supersonic dgn dilengkapi oleh technologi
canggih yang akan tidak berdaya apabila tidak mempunyai energy / tenaga dari
bahan bakar yang dibawa dan dimiliki oleh pesawat tersebut.
Karena itu, Tuhan tidak
membiarkan manusia berjalan sendirian, tetapi menyediakan jalan
penghubung (Wasilah) agar manusia mampu:
- Mengetahui kebenaran.
- Memiliki kekuatan untuk mengamalkannya terus menerus
sampai waktu yg tidak terbatas dan juga melawan godaan-godaan baik secara
phisik maupun metaphisik, jasmani dan rohani, zahir dan bathin serta dunia
dan akhirat.
- Sampai kepada-Nya dengan selamat.
Apa itu Wasilah? Mengapa mutlak
diperlukan? Bagaimana Wasilah menyalurkan petunjuk dan daya ilahi? Apakah
konsep ini ada di agama lain? Dan bagaimana cara menyambung ke Wasilah?
Artikel ini menjawab semua
pertanyaan itu dengan dalil Al-Qur’an, hadits, kitab-kitab samawi, dan
teks-teks suci agama lain, agar menjadi kajian universal yang menguatkan
keyakinan.
Konsep
Wasilah dalam Islam
Dalam Islam, Wasilah adalah
jalan penghubung menuju Allah. Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang
beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah Wasilah untuk mendekat
kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung."
(QS. Al-Maidah: 35)
Rasulullah ο·Ί bersabda:
"Barang siapa mati tanpa mengenal
imam zamannya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah."
(HR. Muslim)
Ini menegaskan pentingnya jalur
sambungan ruhani kepada pewaris Nabi.
Islam juga menekankan bahwa Wasilah
bukan hanya pembawa petunjuk, tetapi juga pembawa kekuatan (daya ilahi). Sebagaimana
Nabi Musa ‘alaihis salam tidak bisa membelah laut tanpa tongkat (wasilah)
yang diberi daya oleh Allah SWT.
Begitu juga Nabi Muhammad SAW, dalam
melakukan perjalanan Isra’ dam Mi’rajnya,
tanpa daya atau energi yg tidak berhingga maka tidak akan dapat melakukan
perjalanan panjang sampai ke Tuhannya dan kembali lagi ke dunia.
Allah juga berfirman:
"Dan barangsiapa yang diberi
petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang
disesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan baginya seorang penolong (Waliyam
Murshida)."
(QS. Al-Kahfi: 17)
Ayat ini menunjukkan peran Wali
Murshid sebagai penghubung daya dan petunjuk ilahi.
Wasilah
dalam Agama Kristen
Dalam kekristenan, konsep penghubung
ini sangat kuat. Yesus Kristus dianggap sebagai satu-satunya penghubung
(mediator) antara manusia dan Tuhan.
Dalam Perjanjian Baru:
“Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
(Yohanes 14:6)
Paulus menulis:
“Karena Allah itu esa, dan esa pula
Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus
Yesus.”
(1 Timotius 2:5)
Ini adalah konsep Wasilah yang
jelas: manusia tidak bisa langsung kepada Tuhan tanpa melalui penghubung
yang ditetapkan-Nya.
Selain Yesus, dalam tradisi Katolik
ada para santo dan santa yang diyakini sebagai pengantara doa
(intercessors) karena kedekatan mereka kepada Tuhan. Ini mirip dengan konsep Wali
dalam Islam.
Wasilah
dalam Agama Hindu
Dalam Hindu, dikenal konsep Guru
atau Satguru. Bhagavad Gita menegaskan pentingnya seorang Guru spiritual:
“Carilah pengetahuan ini dengan
bersujud, dengan bertanya, dan dengan pelayanan; para bijak yang telah melihat
kebenaran akan mengajarkan kepadamu pengetahuan itu.”
(Bhagavad Gita 4:34)
Di sini terlihat jelas bahwa hubungan
guru-murid adalah wasilah untuk sampai kepada Tuhan (Brahman). Bahkan,
dalam Upanishad, dikatakan bahwa tanpa guru, ilmu spiritual hanya akan
menjadi teori yang mati.
Wasilah
dalam Agama Buddha
Dalam Buddhisme, meskipun tidak
mengenal Tuhan dalam pengertian personal, konsep penghubung tetap ada.
Buddha Gautama menekankan Sangha (komunitas guru dan bhikkhu) sebagai jalan
untuk pencerahan.
Dalam Dhammapada:
“Jangan berjalan sendirian di jalan
spiritual, carilah teman bijak yang dapat menuntunmu.”
(Dhammapada 61)
Tanpa bimbingan seorang guru (Lama,
dalam tradisi Tibet), seorang praktisi hampir mustahil mencapai Nirvana. Ini
sejajar dengan konsep Murshid dalam tasawuf.
Kesamaan
Konsep Wasilah dalam Agama-Agama
Jika kita perhatikan:
- Islam:
Wasilah adalah Nabi, Rasul, dan pewaris mereka (Wali/Murshid).
- Kristen:
Wasilah adalah Yesus Kristus, bahkan santo/santa sebagai perantara doa.
- Hindu:
Wasilah adalah Satguru yang membimbing.
- Buddha:
Wasilah adalah Guru dan Sangha sebagai pengantar pencerahan.
Kesimpulannya: Semua agama sepakat tidak ada manusia yang bisa sampai
kepada Tuhan atau pencerahan tanpa bimbingan seorang penghubung yang ditetapkan
oleh Tuhan atau oleh tradisi suci.
Mengapa
Wasilah Bukan Sekadar Petunjuk, Tapi Juga Daya Ilahi
Semua kitab suci menekankan manusia
lemah tanpa daya Tuhan.
- Islam: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan
Allah.” (Laa hawla wa laa quwwata illa billah)
- Kristen: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat
apa-apa.” (Yohanes 15:5)
- Hindu: “Aku adalah kekuatan dalam semua makhluk yang
hidup.” (Bhagavad Gita 7:8)
Daya ini tidak turun langsung ke
semua orang, melainkan melalui jalur Wasilah. Seperti listrik yang
butuh kabel, energi Tuhan butuh saluran yang bersih agar manusia mampu menerimanya.
Selain dari itu banyak orang mengira
Wasilah hanya memberi petunjuk berupa ilmu dan aturan. Padahal dari segi
sains atau teknologi lebih dari itu, Wasilah juga mengalirkan energi
Ilahi (spiritual power) yang menjaga, menguatkan, memberi keberkahan dan yg lebih penting lagi adalah energy ini
bisa membawa hambanya untuk menuju dan kembali kepada Tuhannya Allah Swt,
yaitu perjalanan yang berawal dari alam phisik kealam metaphisik (Rohani,
bathiniah) atau alam kasar menuju alam yang lebih halus dari dimensi yg dapat
dilihat sampai ke dimensi yg tidak dapat dilihat (tidak berbentuk dan tidak
bersuara tetapi hanya dapat dirasa yang mempunyai energy yg maha dasyat tak terhingga
yang membentuk alam jagat raya ini). Tanpa energi ini, ilmu tidak bermanfaat,
pentunjuk hanya sekedar petunjuk yg hanya ada dan menjadi cerita dan tidak bisa
direalisasikan atau juga hanya menjadi keyakinan atau kepercayaan yang tidak
bisa dibuktikan dan menjadi suatu dogma cerita semata.
Walaupun begitu “Petunjuk atau Guide”
juga sangat dibutuhkan, karena untuk mendapatkan, menyalurkan dan memanfaatkan Daya
atau Energi yang Tak berhingga dari Allah SWT ini tanpa adanya petunjuk maka Daya
atau Energi yang tak berhingga ini kemungkinannya tidak akan didapat dan dimanfaatkan oleh manusia atau kemungkinan lain apabila didapat daya atau energi ini dapat disalah gunakan yang dapat merusak atau memusnakan semua mahluk atau alam semesta
ini. Petunjuk dan Daya ini mutlak harus diturunkan bersamaan sehingga menjadi
Rahmatilallamin.
Bayangkan listrik: kita tahu
ada pabrik listrik (power plant), tapi tanpa kabel, trafo, dan jaringan
distribusi, energi tidak sampai ke rumah. Sama halnya, tanpa Wasilah,
manusia seperti peralatan elektronik tanpa daya—punya bentuk tapi tidak
berfungsi.
Dalam Islam, Rasulullah ο·Ί bersabda:
“Sesungguhnya para ulama adalah
pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud)
Artinya, setelah Nabi, para
pewaris (wali, ulama sejati) adalah saluran energi Ilahi. Mereka bukan
hanya guru teori, tapi transformator spiritual yang menyalurkan daya
dari sumber utama (Allah).
Harus diingat, bahwa listrik tidak
sama dengan kabel, listrik tetap listrik dan kabel adalah tetap kabel, tetapi listrik
membutuhkan kabel dan tanpa kabel maka listrik tidak akan sampai kepada tujuan
seperti menghidupkan lampu, mendinginkan AC, menjalankan motor, mobil dan juga
peralatan yg lain2nya. Begitu juga kabel, dia tidak akan punya daya untuk
menghidupkan peralatan2 tersebut. Keduanya berbeda tetapi saling membutuhkan
dan kedua-duanya harus bersinergi agar peralatan yg menggunakan dapat berfungsi
sesuai dengan kegunaannya.
Begitu juga wasilah atau Nabi2,
Rasul2 atau Pewaris2 atau Penerus2nya berbeda dengan Tuhannya tetapi mereka
saling bersinergi. Yg satu kekal dan abadi dan yg satunya silih berganti secara
estafet saling menyambung yg membawa dan menyalurkan tenaga, daya atau energy
dari Tuhannya sampai saat ini.
Apa
Jadinya Jika Tanpa Wasilah?
Hidup tanpa Wasilah = hidup tanpa
arah dan tanpa daya.
Contoh:
- Tahu rokok haram, tapi tetap merokok (ilmu ada, daya
tidak ada).
- Tahu sabar itu wajib, tapi tetap marah (ilmu ada, daya
tidak ada).
Kitab-kitab suci juga memperingatkan
bahaya ini:
- Islam: “Barangsiapa mati tanpa imam, mati dalam
keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim)
- Kristen: “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia
dibuang seperti ranting dan menjadi kering.” (Yohanes 15:6)
- Hindu: “Tanpa guru, seseorang tidak dapat mencapai
pengetahuan yang benar.” (Upanishad)
- Buddha: “Jangan berjalan sendiri di jalan ini.”
(Dhammapada)
Bagaimana
Menyambung Kepada Wasilah?
Prinsip umum di semua agama:
- Cari penghubung yang sah dan tersambung (Murshid, Guru, Yesus, Lama).
- Dekati dengan kerendahan hati dan niat ikhlas.
- Ambil janji setia atau ikatan spiritual (baiat dalam Islam, baptisan dalam Kristen, diksha
dalam Hindu).
- Amalkan bimbingannya dengan istiqamah.
Dalam Agama Islam Allah SWT berfirman:
"Dan barangsiapa yang diberi
petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang
disesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan baginya seorang penolong (Waliyam
Murshida)."
(QS. Al-Kahfi: 17)
Ayat ini menegaskan pentingnya “Wasilah” atau “Wali
yang Murshid” — seorang pembimbing yang telah tersambung kepada sumber daya
ilahi melalui rantai pewarisan spiritual dari Rasulullah ο·Ί.
Kesimpulan
Wasilah adalah kebutuhan
spiritual yang ditetapkan oleh Allah. Tidak mungkin manusia sampai kepada
Allah tanpa jalan yang Allah tetapkan. Wasilah ini bukan berarti menyekutukan
Allah, tetapi justru mengikuti aturan-Nya.
Sebagaimana firman Allah:
“Jika mereka ketika menzalimi diri
mereka datang kepadamu (wahai Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah dan
Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-NisΔ’: 64)
Maka, peran wasilah dalam
kerohanian dan ketuhanan adalah sangat urgen, agar manusia tetap berada di
jalan yang benar menuju Allah dan mendapatkan kekuatan / tenaga / daya / energy
untuk menjalaninya sampai dan kembali kepada Tuhannya.
Dari sinillah kita bisa mengambil
kesimpulan apakah berguna dan urgensinya yaitu sebagai berikut:
- Wasilah adalah jalan penghubung yang membawa petunjuk
dan daya ilahi.
- Semua agama besar menegaskan tidak bisa sampai
kepada Tuhan tanpa penghubung.
- Tanpa Wasilah, manusia akan lemah, tersesat, dan menuju
kehancuran.
· Cara selamat adalah menyambung ke
Wasilah yang sah dan mengikuti bimbingannya (QS. Al-Kahfi: 17)
"Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat
petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan
baginya seorang penolong (Waliyam Murshida)."