Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa
monumental yang dialami Nabi Muhammad ﷺ, di mana beliau diperjalankan oleh
Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’), kemudian dinaikkan melalui
lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Peristiwa ini disebut dalam
Al-Qur’an dan hadis sahih, serta menjadi rujukan penting dalam kajian aqidah,
tasawuf, dan filsafat Islam.
Dalil Al-Qur’an
· QS Al-Isra
[17]:1: “Maha Suci Allah yang
memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha
yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian
tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
· QS An-Najm
[53]:13-18: menjelaskan bagaimana Nabi melihat
tanda-tanda kebesaran Allah di Sidratul Muntaha dengan pandangan yang tetap dan
tidak melampaui batas.
· QS Al-Hijr
[15]:29: tentang ditiupkannya ruh ke dalam
jasad manusia, menjadi dasar konsep penyatuan jasmani dan ruhani.
Hadis-hadis sahih (Shahih Bukhari
& Muslim) menggambarkan perjalanan Nabi secara detail: mulai dari
pembersihan dada dengan air Zamzam, ditemani Malaikat Jibril, mengendarai
Buraq, hingga bertemu para nabi di setiap lapisan langit sebelum sampai di
hadirat Allah.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa
pencapaian spiritual tertinggi memerlukan keselarasan jasmani dan ruhani,
serta bimbingan langsung dari Allah melalui wasilah (perantara yang
sah). Para ulama besar seperti Imam Nawawi dan Al-Ghazali menegaskan bahwa
Mi’raj Nabi adalah peristiwa nyata yang melibatkan tubuh dan jiwa, sekaligus
simbol jalan ruhani bagi umat.
Pandangan ulama
· Imam Nawawi: Isra’ dan Mi’raj
terjadi dengan ruh dan jasad.
· Al-Ghazali: Mi’raj adalah teladan
bagi manusia untuk naik menuju Allah melalui ibadah dan penyucian diri.
· Ibn Arabi: Mi’raj Nabi adalah contoh
sempurna perjalanan ke “hakikat wujud”, puncak penyatuan kesadaran makhluk
dengan kesadaran Ilahi.
Dari sudut pandang ilmu pengetahuan
modern, Isra’ dan Mi’raj memberi inspirasi bagi eksplorasi hubungan antara
materi, kesadaran, dan dimensi alam semesta:
- Teori Relativitas Einstein menunjukkan waktu bersifat relatif terhadap kecepatan
dan gravitasi; hal ini membuka pemahaman tentang perjalanan lintas
ruang-waktu yang sangat cepat.
- Kosmologi & Teori String memprediksi adanya dimensi tambahan selain tiga
dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Mi’raj dapat dipahami sebagai
perjalanan ke dimensi yang lebih tinggi dengan izin Allah.
- Fisika Kuantum
menyingkap bahwa partikel dan energi dapat berada dalam keadaan
“superposisi”, memberi analogi bagi pengalaman spiritual yang melampaui
batas ruang dan materi.
- Neurosains & psikologi transpersonal meneliti fenomena “peak experience” dan kesadaran
non-dual, yang memberi ilustrasi bagaimana manusia dapat mengalami keadaan
yang melampaui ego.
Keseluruhan dalil dan temuan ini
memperlihatkan bahwa Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar kisah sejarah atau legenda.
Ia adalah peta ruhani dan intelektual yang menjembatani iman, akal, dan
sains: menunjukkan bahwa untuk mencapai kehadiran Ilahi, manusia perlu
mengharmonikan jasad dan ruh, membersihkan hati, mengikuti syariat, dan
menempuh jalan dengan wasilah yang benar.
2.
Dalil Al-Qur’an dan Keterkaitan dengan Ilmu
a.
QS Al-Isra [17]:1
“Maha Suci Allah yang memperjalankan
hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda
Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Ayat ini memakai kata ‘abdihi
(hamba-Nya), menunjukkan bahwa perjalanan itu mencakup jasad dan ruh
Nabi Muhammad ﷺ. Tidak hanya pengalaman batin, tetapi juga fisik yang
nyata. Ini ditegaskan dalam hadis sahih: dada Nabi dibelah, jantungnya
dibersihkan dengan air Zamzam, melambangkan persiapan jasmani dan rohani.
Analogi sains: Dalam fisika, ketika suatu sistem akan memasuki “lingkungan
baru” yang ekstrem, ia perlu dikalibrasi atau distabilisasi lebih dahulu
(misalnya kalibrasi sensor sebelum masuk ruang vakum). Pembersihan dada Nabi
bisa diibaratkan kalibrasi spiritual–biologis sebelum memasuki dimensi di luar
ruang-waktu normal.
b.
QS An-Najm [53]:17–18
“Pandangan (Nabi) tidak menyimpang
dan tidak melampaui batas. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda
terbesar Tuhannya.”
Ayat ini sering dijadikan dalil
tentang keadaan fana’ — lenyapnya kesadaran ego dalam kehadiran Ilahi.
Nabi berada dalam titik keseimbangan sempurna: tidak condong ke kiri atau
kanan, tetap dalam fokus yang mutlak.
Analogi sains: Dalam mekanika kuantum, ada fenomena “ground state
stability”, keadaan paling rendah energi di mana sistem menjadi stabil.
Begitu pula Mi’raj Nabi memperlihatkan kondisi kesadaran yang sangat stabil,
tidak “bergerak” ke arah selain Allah.
c.
QS Al-Hijr [15]:29
“Maka apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah
kalian kepadanya dengan bersujud.”
Ayat ini menerangkan asal-usul
manusia: jasad dibentuk dari tanah, lalu dihidupkan dengan ruh Ilahi.
Dalam konteks Isra’–Mi’raj, ayat ini menjadi dasar pemahaman bahwa perjalanan
spiritual sejati terjadi melalui sinergi jasmani dan ruhani yang
sempurna.
Analogi sains: Proses “penyatuan unsur” ini sejalan dengan prinsip bioenergi
dan interaksi elektromagnetik dalam tubuh manusia. Jasad memerlukan
energi vital (dalam bahasa biologi: bioelektrisitas, metabolisme) agar
berfungsi. Isra’ dan Mi’raj menunjukkan puncak harmonisasi unsur material dan
energi ruhani.
d.
QS Al-Māidah [5]:35
“Wahai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan perantara) untuk mendekat
kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.”
Ayat ini menegaskan pentingnya wasilah
— sarana atau jembatan yang diizinkan Allah untuk mendekat kepada-Nya. Dalam
Isra’–Mi’raj, wasilah itu berupa Malaikat Jibril, Buraq, dan para nabi yang
menyambut Nabi Muhammad ﷺ di tiap lapisan langit, semuanya tersambung
secara ruhani dan jasmani kepada Nabi Ibrahim melalui garis keturunan Ismail.
Analogi sains & hukum alam:
- Dalam kelistrikan, arus tidak bisa mengalir tanpa konduktor; perlu media agar energi berpindah.
- Dalam komunikasi data, sinyal butuh protokol dan saluran agar sampai ke tujuan tanpa distorsi.
- Dalam hukum fisika, gaya hanya dapat bekerja melalui “mediator” (misalnya gravitasi melalui kelengkungan ruang-waktu).
Begitu pula, dalam tatanan ruhani
diperlukan “mediator suci” yang diizinkan Allah: wahyu, malaikat, dan guru
mursyid yang sahih sanadnya.
Keempat ayat ini memperlihatkan
fondasi teologis perjalanan Isra’–Mi’raj:
1.
Realitas fisik dan ruhani Nabi yang dibawa dalam satu kesatuan.
2.
Kesiapan hati dan tubuh sebelum memasuki dimensi Ilahi.
3.
Kehadiran ruh sebagai peniup kehidupan pada jasad.
4.
Keharusan wasilah sebagai saluran menuju Allah,
sebagaimana hukum alam memerlukan media bagi perpindahan energi.
Semua ini
memperlihatkan keserasian antara dalil wahyu dan prinsip sains: keduanya
sama-sama mengakui adanya tatanan dan hukum
yang mengatur bagaimana manusia dapat naik ke tingkatan keberadaan yang lebih
tinggi dengan izin Allah.
3.
Hadis Pokok tentang Isra’ dan Mi’raj
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj terekam
dalam hadis-hadis sahih, terutama riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim. Inti
riwayatnya sebagai berikut:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketika aku berada di Hijr (dekat
Ka’bah), tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril. Dadaku dibelah, kemudian dibasuh
dengan air Zamzam, lalu diisi dengan hikmah dan iman. Setelah itu didatangkan
kepadaku seekor hewan putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari
bagal; namanya Buraq. Aku menungganginya hingga tiba di Baitul Maqdis. Di sana
aku shalat dua rakaat bersama para nabi. Kemudian aku dinaikkan ke langit.”
(HR. al-Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Rincian
perjalanan (ringkasan dari berbagai riwayat sahih)
- Pembersihan dada
Sebelum perjalanan, Jibril membelah dada Nabi, membersihkan
hati dengan air Zamzam, lalu mengisinya dengan cahaya iman dan hikmah. Ini
menandakan kesiapan batin dan fisik untuk menerima wahyu dan beban spiritual
yang luar biasa.
- Isra’ (perjalanan malam)
Nabi mengendarai Buraq, hewan berwarna putih dengan langkah
sejauh mata memandang. Dalam waktu singkat beliau sampai di Masjid al-Aqsha,
memimpin shalat bersama para nabi.
- Mi’raj (kenaikan ke langit)
Nabi bersama Jibril naik melalui berbagai lapisan langit:
- Langit 1: Nabi Adam.
- Langit 2: Nabi Isa &
Yahya.
- Langit 3: Nabi Yusuf.
- Langit 4: Nabi Idris.
- Langit 5: Nabi Harun.
- Langit 6: Nabi Musa.
- Langit 7: Nabi Ibrahim di
dekat Baitul Ma’mur.
Semua nabi yang ditemui berasal dari garis keturunan Nabi
Ibrahim, khususnya melalui Ismail, untuk menguatkan sanad jasmani dan ruhani
Rasulullah ﷺ.
- Sidratul Muntaha
Setelah itu, Nabi sampai di pohon Sidratul Muntaha, batas
terakhir makhluk. Jibril berhenti; hanya Nabi yang melanjutkan mendekat ke
hadirat Allah ﷻ.
- Perintah shalat
Allah mewajibkan shalat 50 kali sehari. Nabi Musa
menyarankan agar meminta keringanan. Nabi beberapa kali “naik-turun” hingga
menjadi 5 waktu, dengan pahala setara 50.
- Kembali ke Makkah
Nabi kembali ke Masjidil Haram sebelum fajar; tempat tidur
beliau masih hangat, menandakan perjalanan berlangsung sangat singkat menurut
ukuran bumi.
Makna
spiritual
- Jibril
adalah wasilah utama: malaikat wahyu yang menuntun Nabi menapaki dimensi
gaib.
- Buraq
melambangkan sarana yang memadukan unsur ruhani dan jasmani.
- Pertemuan dengan para nabi menunjukkan kesinambungan risalah dan sanad kenabian.
- Sidratul Muntaha
adalah simbol batas pengetahuan semua makhluk; di atasnya hanya Allah Yang
Maha Mengetahui.
- Shalat
menjadi buah tertinggi perjalanan: media penghubung langsung antara hamba
dan Tuhannya.
Ilustrasi
ilmiah
Walau tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh sains, perjalanan ini tidak meniadakan hukum-hukum alam ciptaan
Allah. Ada beberapa analogi yang membantu memvisualisasikan peran “wasilah”
(Jibril, Buraq, para nabi):
- Dalam fisika materi, kita mengenal perubahan
wujud: padat → cair → gas → plasma. Tiap wujud memerlukan energi tertentu
agar transisi terjadi. Begitu pula, Jibril, Buraq, dan para nabi yang
ditemui Nabi dapat dianalogikan sebagai fase transisi dalam
perjalanan energi ruhani-jasmani: konduktor yang memungkinkan Nabi
berpindah dari “kepadatan” duniawi ke “keluwesan” dimensi tinggi.
- Dalam relativitas, kecepatan mendekati cahaya
memperlambat waktu relatif terhadap pengamat diam, memberi gambaran bahwa
Mi’raj mungkin terjadi dalam “durasi pendek” di bumi, namun mencakup
pengalaman panjang pada kerangka lain.
- Dalam kosmologi, alam semesta diduga memiliki
lebih dari empat dimensi. Wasilah-wasilah Mi’raj dapat dipandang sebagai
“jembatan energi” yang menyambungkan dimensi terbatas dengan dimensi yang
lebih halus.
- Dalam psikologi transpersonal, dikenal “peak
experience” atau kesadaran non-dual, di mana ego lenyap dan yang tersisa
hanyalah kesadaran murni — meski Mi’raj Nabi tentu jauh lebih agung dan
nyata.
Hadis-hadis sahih memperlihatkan
bahwa Isra’–Mi’raj:
- Terjadi dengan jasmani dan ruhani Nabi.
- Melibatkan wasilah suci: Jibril, Buraq, dan para nabi
pewaris Ibrahim, yang dapat dianalogikan sebagai “medium” dalam transformasi
energi.
- Berpuncak pada fana’ (lenyapnya kesadaran selain Allah)
di Sidratul Muntaha.
- Menghasilkan shalat lima waktu sebagai hadiah yang
memelihara hubungan hamba dengan Allah.
4.
Pembentukan & Latihan Nabi
Sejak usia akil baligh hingga
menjelang Isra’–Mi’raj, Nabi Muhammad ﷺ mengalami proses pembentukan jasmani
dan ruhani yang panjang. Proses ini adalah tazkiyatun nafs
(penyucian jiwa) dan penguatan fisik yang menjadi persiapan menerima wahyu dan
perjalanan menembus langit.
a.
Menyepi di Gua Hira (Tahannuts)
Riwayat sahih menjelaskan bahwa
sebelum turunnya wahyu pertama, Rasulullah ﷺ sering berkhalwat di Gua Hira,
sekitar tiga mil dari Makkah. Beliau membawa bekal untuk beberapa malam,
beribadah, merenung, dan memutus diri dari hiruk pikuk masyarakat Quraisy yang
sarat penyembahan berhala.
HR al-Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahy:
“Beliau senang menyendiri. Beliau
biasa pergi ke Gua Hira untuk bertahannuts beberapa malam sebelum kembali
kepada keluarganya, lalu mengambil bekal lagi.”
Khalwat ini melatih ketenangan
pikiran, fokus batin, dan stamina tubuh: berjalan menanjak, menghadapi
dingin malam dan panas siang.
Analogi ilmu: Seperti seorang ilmuwan yang butuh fokus penuh sebelum
penemuan besar, atau atlet yang menjalani latihan intensif sebelum
pertandingan. Tubuh dan pikiran Nabi ditempa agar stabil menghadapi beban luar
biasa.
b.
Perintah Qiyamullail: QS Al-Muzzammil [73]:1–6
“Wahai orang yang berselimut!
Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit. Separuhnya, atau
kurangilah sedikit dari itu, atau lebihkan darinya; dan bacalah Al-Qur’an
dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang
berat.”
Ayat ini turun setelah wahyu
pertama, memerintahkan Nabi bangun malam dan membaca Al-Qur’an secara perlahan.
“Perkataan yang berat” di sini ditafsirkan para ulama sebagai wahyu,
yang membutuhkan kesiapan mental, spiritual, bahkan fisik.
Analogi ilmu: Aktivitas qiyamullail melatih sistem saraf dan hormon
untuk lebih stabil. Secara medis, ibadah malam yang teratur meningkatkan fokus,
keseimbangan emosi, dan daya tahan tubuh.
c.
Seruan Dakwah: QS Al-Muddatsir [74]:1–7
“Wahai orang yang berselimut!
Bangunlah, lalu berilah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu, bersihkanlah
pakaianmu, dan jauhilah (perbuatan dosa)…”
Ayat ini memerintahkan Nabi keluar
dari kesendirian menuju misi dakwah. Setelah latihan batin, beliau harus
menghadapi masyarakat, menanggung ejekan, tekanan, bahkan ancaman. Semua itu
mengasah keberanian, kesabaran, dan kebugaran.
d.
Konsistensi hingga akhir hayat
Latihan Nabi tidak berhenti setelah
wahyu turun. Beliau terus:
- Shalat malam (tahajud), bahkan ketika telah dijamin ampunan (HR Muslim).
- Berzikir
di setiap keadaan, mensucikan hati.
- Puasa
(wajib dan sunnah) untuk mendisiplinkan diri.
- Jihad dan dakwah:
perjalanan panjang, peperangan defensif, dan perjuangan sosial membentuk
ketahanan jasmani yang luar biasa.
Dalam Sirah Ibnu Hisyam dan hadis
sahih diceritakan bahwa Nabi tetap mendirikan tahajud, berpuasa, dan aktif
berdakwah hingga wafat.
e.
Makna spiritual & ilmiah
- Latihan jasmani
(pendakian ke Hira, jihad, puasa) memperkuat daya tahan tubuh.
- Latihan ruhani
(tafakkur, qiyamullail, zikir) melatih kesadaran, ketenangan, dan konsentrasi.
- Proses ini menciptakan sinergi tubuh–ruh,
memungkinkan Nabi menerima “beban wahyu” yang dalam beberapa riwayat
terasa sangat berat, hingga unta yang ditunggangi ikut terduduk.
Analogi ilmu:
- Dalam psikologi modern, latihan mental yang konsisten (meditasi, fokus pernapasan) terbukti menguatkan area otak yang mengatur emosi dan ketahanan stres.
- Dalam fisiologi, disiplin fisik dan tidur teratur memperkuat sistem imun, kardiovaskular, dan saraf.
Proses panjang sejak Gua Hira,
qiyamullail, hingga jihad dan dakwah adalah “madrasah Ilahi” yang
membentuk Nabi Muhammad ﷺ menjadi manusia paling siap menerima amanah wahyu dan
perjalanan Mi’raj. Keseimbangan antara latihan jasmani dan ruhani menjadikan
beliau contoh sempurna bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah dengan
cara yang sehat, seimbang, dan berkesinambungan.
5.
Dimensi Jasmani dan Ruhani
Manusia dalam pandangan Islam adalah
kesatuan jasad dan ruh yang Allah ciptakan secara bersamaan, lalu diberi
potensi untuk berkembang menuju-Nya. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ
menunjukkan bagaimana kedua dimensi itu dapat tersinkron, bahkan
melewati batas-batas ruang dan waktu ketika mendapat izin dan daya dari Allah.
a.
Penciptaan Manusia: Jasad dan Ruh
Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia
berasal dari tanah, kemudian Allah meniupkan ruh ke dalamnya:
QS Al-Hijr [15]:29
“Maka apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka
tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
Ayat ini menegaskan:
- Jasad manusia berasal dari unsur bumi (tanah, mineral,
energi biologis).
- Ruh adalah tiupan langsung dari Allah, sumber kesadaran
dan kehidupan.
Para ulama seperti Imam Fakhruddin
ar-Razi dan Ibn Katsir menafsirkan bahwa ruh bukan sekadar nyawa biologis,
melainkan pancaran perintah Allah yang memberi identitas dan kesadaran pada
manusia.
b.
Keselarasan Jasmani–Ruhani dalam Mi’raj
Isra’ Mi’raj bukan hanya perjalanan
ruh, dan bukan pula semata perjalanan jasad. Mayoritas ulama Ahlussunnah
menyatakan keduanya hadir bersamaan. Hal ini ditunjukkan oleh:
- Kata “abd” (hamba)
dalam QS Al-Isra [17]:1 – menunjukkan keseluruhan diri Nabi, jasmani
sekaligus ruhani.
- Riwayat tentang Buraq (alat transportasi fisik)
dan Malaikat Jibril (pembimbing ruhani), mengindikasikan kedua
dimensi bekerja selaras.
Dalam Mi’raj, jasad Nabi tidak
hancur, tetapi ikut mengalami “pendakian” bersama ruh, hingga keduanya berada
di wilayah yang tidak terjangkau hukum alam biasa.
c.
Proses Sinkronisasi
Mi’raj memberi pelajaran bahwa:
- Jasad
perlu dilatih: menjaga kesehatan, disiplin, ibadah yang melibatkan tubuh
(shalat, puasa, jihad).
- Ruh perlu
dimurnikan: zikir, tafakkur, qiyamullail, keikhlasan.
- Jika keduanya selaras, maka lahir kesadaran puncak
— manusia tidak lagi terbelenggu keterbatasan indrawi, namun tetap
memelihara akhlak dalam kehidupan dunia.
Dalam tasawuf, kondisi ini disebut ittihad
al-qalb wal-jasad — harmoni antara hati dan tubuh yang memantulkan cahaya
Ilahi.
d.
Fase “Lebur” di Hadirat Ilahi
Riwayat Mi’raj menyebutkan ketika
Nabi ﷺ sampai di Sidratul Muntaha, beliau tidak lagi menoleh, bahkan
“lupa” pada diri dan makhluk lain; yang tersisa hanyalah kesadaran akan Allah:
QS An-Najm [53]:17–18
“Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang dilihatnya dan tidak melampauinya. Sungguh dia telah
melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”
Dalam perspektif tasawuf, momen itu
disebut fana’ fillah — lenyapnya kesadaran ego, menyisakan penyaksian
akan Yang Maha Mutlak. Bukan jasad Nabi yang hilang, tetapi identitas hamba
tenggelam dalam keagungan Allah, bagaikan kabel yang dialiri listrik:
bentuk kabel tetap ada, tetapi seluruhnya dihidupi oleh daya yang tak terbatas.
e.
Analogi dan Referensi Sains
- Fisika Relativitas & Dimensi Tambahan
- Menurut Einstein, waktu dan
ruang dapat “melentur” pada kecepatan tinggi. Mi’raj dapat dipahami
sebagai peristiwa yang melibatkan dimensi lebih tinggi, di luar tiga
dimensi ruang yang kita kenal.
- Teori string dan hipotesis
multiverse menyatakan ada ruang tersembunyi yang hanya bisa “diakses”
bila energi tertentu tercapai.
- Biologi & Neurosains
- Tubuh manusia menghasilkan
gelombang otak yang berbeda saat meditasi dalam. Penelitian menunjukkan
keadaan “kesadaran puncak” melibatkan sinkronisasi berbagai area otak
(gamma synchrony).
- Ini memberi analogi bahwa
harmoni jasmani–ruh (atau tubuh–kesadaran) memungkinkan pengalaman
transendental.
- Psikologi Eksistensial
- Viktor Frankl dan Abraham
Maslow menyebut adanya “peak experience”, di mana individu mengalami
makna dan kesatuan mendalam dengan realitas. Walaupun levelnya manusiawi,
ia menjadi bayangan kecil dari Mi’raj yang sempurna.
Dimensi jasmani dan ruhani bukan dua
entitas yang bertentangan, melainkan dua sisi yang Allah selaraskan dalam
diri manusia. Melalui disiplin, ibadah, dan rahmat Ilahi, keduanya dapat:
- Tersinkron,
sehingga kesadaran tidak hanya hidup di dunia materi, tetapi juga terbuka
pada dimensi Ilahi.
- Mencapai titik fana’,
di mana ego dan keterbatasan sirna dalam kesadaran akan Allah Yang Maha
Tunggal.
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ adalah
puncak teladan: bukti bahwa manusia, bila dibimbing wahyu dan menjaga harmoni
tubuh–ruh, mampu mencapai kedekatan yang melampaui batas logika biasa, namun
tetap berada dalam kerangka tauhid.
6.
Sinkronisasi dan Fana’ Total
1. Pembentukan
- Allah ﷻ menciptakan manusia dari tanah, lalu meniupkan
ruh ke dalam jasad:
“Kemudian apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan
meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.” (QS Al-Ḥijr [15]:29)
- Ayat ini menunjukkan dua unsur dasar: materi jasmani
dan daya ruhani yang berasal dari Allah.
Ilmu alam: Biologi menjelaskan bahwa tubuh manusia terbentuk dari
unsur karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, fosfor, dan mineral lainnya — unsur
yang juga terdapat dalam tanah. Fisika-kuantum mengingatkan bahwa semua materi
pada dasarnya adalah energi yang “mengeras” menjadi bentuk stabil.
2. Sinkronisasi
- Agar kedua dimensi ini (jasmani & ruhani) selaras,
diperlukan tazkiyah (penyucian jiwa) dan riyāḍah (latihan).
- Nabi ﷺ menempuhnya sejak akil baligh: tahannuts di Gua
Hira, qiyāmul-lail, zikir, puasa, dakwah, jihad dengan sabar.
- QS Al-Muzzammil [73]:1–6 menekankan disiplin malam:
“Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit…
bacalah Al-Qur’an dengan tartil.”
- Disiplin ini mengokohkan tubuh, menguatkan hati, dan
memurnikan kesadaran agar keduanya dapat bekerja harmonis.
Sains kognitif: Praktik meditasi dan ibadah mendalam terbukti meningkatkan
konektivitas antara korteks prefrontal dan sistem limbik, menghasilkan
keseimbangan emosi, fokus, dan ketenangan tubuh. Latihan berulang juga
membentuk “neuroplasticity” yang memperkuat pola kesadaran.
3. Puncak Mi’raj: Fana’ Total
- Setelah jasad dan ruh Nabi ﷺ terlatih dan selaras,
Allah mengangkatnya melampaui langit hingga Sidratul Muntaha.
- Di sana, sebagaimana QS An-Najm [53]:17 menyatakan:
“Penglihatannya (Nabi) tidak berpaling dan tidak melampaui
batas.”
- Ini fase fana’: kesadaran hamba larut dalam
kehadiran Sang Pencipta. Tidak ada lagi “aku”, yang ada hanya Allah ﷻ.
- Hadis riwayat Bukhari-Muslim menggambarkan Nabi
menerima shalat di puncak kedekatan itu, sebelum kembali membawa syariat
bagi umat.
Analogi: Seperti kabel dan listrik. Kabel (jasmani & ruhani)
hanyalah wadah yang siap menerima aliran. Saat arus Ilahi mengalir penuh, yang
terasa hanyalah daya itu sendiri, bukan lagi wadahnya.
Sains kesadaran: Dalam studi tentang “peak experience” atau pengalaman
puncak (Abraham Maslow), individu pada momen transendensi sering melaporkan
hilangnya batas diri, kesatuan total, dan kedamaian mendalam. Meski berbeda
dimensi dengan Mi’raj Nabi ﷺ yang bersifat wahyu dan hakiki, fenomena ini
memberikan gambaran bahwa kesadaran manusia memang dapat melampaui persepsi ego
biasa ketika difasilitasi oleh latihan yang benar dan izin Ilahi.
Peristiwa Mi’raj mengajarkan bahwa:
- Tubuh manusia dapat dipersiapkan melalui latihan
jasmani & ruhani.
- Ruh yang suci mampu selaras dengan jasad yang terjaga.
- Dengan izin Allah, keduanya bisa melebur dalam
pengalaman ilahiah yang murni — puncak dari perjalanan hamba menuju
Tuhannya.
7.
Wasilah: Syarat Perjalanan Ruhani
Perjalanan ruhani sebesar Isra’
dan Mi’raj tidak mungkin terjadi hanya dengan kemampuan manusia biasa. Ia
memerlukan wasilah — sarana yang ditunjuk Allah ﷻ sebagai penghubung
antara yang terbatas dan Yang Mahabesar.
a.
Hakikat Wasilah
- Allah memerintahkan agar manusia mencari sarana
mendekat kepada-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah
dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya
agar kalian beruntung.”
(QS Al-Māidah [5]:35)
- Dalam kisah Nabi Musa dan Khidir, tampak bahwa ilmu dan
bimbingan khusus harus dicapai melalui guru yang diutus Allah:
“…lalu mereka mendapati seorang hamba di antara hamba-hamba
Kami yang telah Kami beri rahmat dari sisi Kami, dan Kami ajarkan kepadanya
ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu agar
engkau mengajariku ilmu yang benar di antara ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?’”
(QS Al-Kahfi [18]:65–66)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa
pendekatan kepada Allah dan pencapaian pengetahuan ruhani tertinggi memerlukan
bimbingan dan sarana yang telah ditetapkan-Nya.
b.
Wasilah dalam Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ
- Malaikat Jibril
- Pendamping utama Nabi sejak
wahyu pertama (QS Al-‘Alaq [96]:1–5).
- Dalam Mi’raj, Jibril menjadi
pemandu, penjelas, sekaligus penjaga batas (HR Bukhari-Muslim).
- Buraq
- Kendaraan bercahaya yang menghubungkan
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu ke langit.
- Menjadi simbol wasilah
jasmani, yakni sarana yang memungkinkan tubuh Nabi menempuh dimensi
di luar kebiasaan alam.
- Para Nabi keturunan Ibrahim melalui Ismail
- Nabi Muhammad ﷺ bertemu mereka
di tiap lapisan langit: Adam, Isa & Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa,
dan Ibrahim (HR Bukhari-Muslim).
- Mereka adalah bagian dari
rantai kenabian, menghubungkan Nabi ﷺ secara ruhani dan jasmani kepada
sumber ketauhidan Ibrahim.
Semua unsur ini merupakan “konduktor
energi Ilahi” yang menjembatani maqām manusia menuju hadirat Ilahi.
c.
Analogi Sains
- Konduktor Listrik
Arus listrik hanya bisa mengalir bila ada medium penghantar.
Tembaga atau emas menjadi wasilah yang memungkinkan energi bergerak tanpa
hambatan besar.
- Enzim Biologis
Dalam tubuh, reaksi kimia tidak akan berlangsung cepat tanpa
enzim. Enzim menjadi katalis — mempercepat proses dengan mengurangi energi
aktivasi.
- Katalis dalam Kimia
Banyak reaksi memerlukan zat katalis agar berlangsung
sempurna. Tanpa katalis, energi yang dibutuhkan terlalu besar sehingga proses
terhenti.
Begitu pula perjalanan ruhani: ia
memerlukan “katalis Ilahi” agar hamba dapat melampaui dimensi normal. Jibril,
Buraq, dan para nabi yang ditemui Nabi Muhammad ﷺ adalah “katalis” yang Allah
hadirkan untuk memperlancar arus daya ruhani menuju maqām tertinggi.
Dengan demikian dapat diartikan bahwa:
- Wasilah adalah hukum tetap yang Allah tetapkan dalam
sunnatullah-Nya: tidak ada pencapaian ruhani tanpa bimbingan dan sarana
yang sah.
- Dalam Mi’raj, malaikat, kendaraan cahaya, dan rantai
kenabian menjadi jembatan yang menghubungkan Nabi ﷺ dengan alam malakut
dan puncak kedekatan dengan Allah ﷻ.
- Seperti hukum alam yang memerlukan perantara untuk
menyalurkan energi atau mempercepat reaksi, demikian pula jalan ruhani
memerlukan perantara suci yang ditetapkan oleh Tuhan.
8.
Perspektif Sains
Isra’ dan Mi’raj adalah mukjizat
yang melampaui pengalaman biasa manusia. Meski begitu, peristiwa ini tidak
meniadakan hukum ciptaan Allah; ia berjalan di atas keteraturan yang sama,
hanya saja pada tingkatan yang tidak terjangkau oleh rumus atau alat ukur
manusia. Untuk membantu imajinasi modern, kita dapat melihatnya melalui analogi
sains, dengan memperluas hukum fisika ke arah parameter “tak terhingga”
— wilayah di mana teori konvensional berhenti, tetapi tetap berada dalam sistem
yang diciptakan Allah.
a.
Relativitas Waktu
- Dalam teori relativitas Einstein, waktu dan ruang
bukanlah mutlak. Gerakan mendekati kecepatan cahaya atau medan gravitasi
ekstrem dapat memperlambat atau “membengkokkan” waktu.
- Jika konsep ini diekstrapolasi ke skala tak
terhingga yang berada di bawah kendali langsung Sang Pencipta,
perjalanan sejauh alam raya dalam “satu malam” menjadi mungkin dalam
kerangka keteraturan ciptaan.
b.
Dimensi Tambahan
- Teori string dan kosmologi modern membuka kemungkinan
adanya dimensi lebih dari tiga ruang dan satu waktu.
- Mi’raj dapat dianalogikan sebagai akses yang diizinkan
Allah ke dimensi-dimensi itu — sesuatu yang berada di luar kemampuan
teknologi manusia, tetapi tidak di luar ciptaan-Nya.
c.
Medan Kuantum & Kesatuan Energi
- Fisika kuantum menunjukkan bahwa semua partikel muncul
dari medan energi dasar yang menyelimuti alam semesta.
- Mukjizat tidak menghancurkan jaringan ini, melainkan
memanfaatkan hukum yang sama pada skala tak terhingga, ketika
energi dan eksistensi berada dalam kesatuan yang melampaui batas
pengukuran.
d.
Horizon Peristiwa & Fana’
- Di sekitar horizon peristiwa lubang hitam, waktu dan
ruang mengalami distorsi sedemikian rupa sehingga bagi pengamat luar
keduanya nyaris berhenti.
- Dengan memperluas fenomena ini ke tingkat tak
terhingga, kita dapat membayangkan keadaan di Sidratul Muntaha: Nabi ﷺ
tidak lagi merasakan dirinya; yang hadir hanyalah Allah (QS An-Najm
[53]:17).
e.
Konduksi Energi dan Wasilah
- Dalam fisika, energi memerlukan medium atau katalis
agar dapat berpindah (konduktor listrik, enzim biologis, katalis reaksi).
- Wasilah yang Allah tunjuk — Malaikat Jibril, Buraq,
para nabi dalam rantai keturunan Ibrahim melalui Ismail — dapat
dianalogikan sebagai “konduktor” yang memungkinkan jasad dan ruh Nabi ﷺ
menerima dan menghantarkan daya Ilahi sehingga mampu melampaui batas
ruang-waktu.
Mukjizat Mi’raj tidak menafikan
hukum alam; ia adalah operasi hukum ciptaan pada skala tak terhingga yang
melampaui batas observasi manusia. Hukum fisika yang kita kenal hanyalah model
untuk domain yang terbatas, sedangkan Mi’raj memperlihatkan tingkat keteraturan
yang lebih luas, diatur langsung oleh kehendak Allah ﷻ.
9.
Mi’raj sebagai Peta Bagi Umat
Perjalanan Isra’ dan Mi’raj bukan
sekadar mukjizat eksklusif Nabi Muhammad ﷺ, melainkan peta ruhani yang
menunjukkan bagaimana manusia, sesuai kapasitasnya, dapat mendekat kepada Allah
melalui penyucian diri dan keterhubungan dengan wasilah yang benar. Tidak
seorang pun akan mencapai tingkat Nabi ﷺ, namun setiap mukmin dapat memperoleh
“percikan Mi’raj” dalam bentuk kesadaran Ilahi yang mendalam.
9.1.
Menyadari Asal-Usul Jasmani & Ruhani
- Allah ﷻ menciptakan manusia dari tanah (QS Al-Mu’minun
[23]:12) dan meniupkan ruh-Nya (QS Al-Hijr [15]:29).
- Kesadaran akan dua unsur ini menumbuhkan keseimbangan:
tubuh dipelihara dengan halal, ruh disuburkan dengan zikir, doa, dan ilmu.
- Sains: Biologi menjelaskan tubuh tersusun dari unsur
bumi (karbon, oksigen, hidrogen), sedangkan kesadaran belum sepenuhnya
dijelaskan; ini membuka ruang untuk aspek ruhani.
9.2.
Menempuh Disiplin Ibadah dan Akhlak
- Nabi ﷺ diperintahkan: “Bangunlah (untuk shalat) di
malam hari kecuali sedikit” (QS Al-Muzzammil [73]:1–6).
- Ibadah (shalat, puasa, zikir) dan akhlak yang luhur
menyelaraskan jasad dan ruh, menjadi latihan menuju mi’raj batin.
- Sains: Latihan yang konsisten (habit) mengubah jaringan
otak (neuroplastisitas) dan memperkuat pusat regulasi emosi, mendukung
kesadaran yang lebih tinggi.
9.3.
Mengikuti Wasilah yang Benar
- QS Al-Maidah [5]:35: “Carilah wasilah untuk mendekat
kepada-Nya.”
- Nabi ﷺ bersabda: “Ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR Tirmidzi).
- Wasilah mencakup syariat Nabi ﷺ, guru ruhani yang
sahih, ilmu yang benar, dan komunitas saleh. Mereka ibarat konduktor
energi yang menyalurkan cahaya hidayah.
- Sains: Dalam pembelajaran, keberadaan mentor
mempercepat pencapaian (konsep scaffolding dalam psikologi
pendidikan).
9.4.
Menyelaraskan Tubuh dan Jiwa
- Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dalam tubuh ada
segumpal daging; jika ia baik, baiklah seluruh tubuh…” (HR
Bukhari-Muslim).
- Penyelarasan tubuh dan jiwa menuntut keseimbangan
antara hak jasad (makan, istirahat, olahraga) dan hak ruh (ibadah,
tafakkur).
- Sains: Kesehatan tubuh berpengaruh pada kestabilan
psikis (hubungan gut-brain axis, hormon, dan sistem saraf otonom).
9.5.
Mengalami “Mi’raj Batin”
- Shalat disebut Nabi ﷺ sebagai “Mi’raj bagi orang
beriman” (HR Baihaqi).
- Melalui shalat khusyuk, zikir mendalam, dan fana’ dalam
cinta Allah, hamba dapat merasakan kedekatan Ilahi — meskipun tidak
mencapai maqam Nabi ﷺ di Sidratul Muntaha.
- Sains: Penelitian tentang meditasi dan pengalaman
transendental menunjukkan bahwa kesadaran dapat memasuki keadaan
“non-dual”, seolah lenyapnya batas diri; ini menjadi analogi yang membantu
memahami fana’.
Mi’raj memberi teladan bahwa jalan
menuju Allah melibatkan:
- Kesadaran akan jasmani dan ruhani.
- Latihan spiritual dan akhlak yang konsisten.
- Bimbingan wasilah yang sahih.
- Keseimbangan tubuh dan jiwa.
- Puncak berupa rasa kedekatan dengan Allah, yang
menumbuhkan cinta, syukur, dan kesanggupan mengemban amanah.
Mukjizat Nabi ﷺ menjadi peta agar
umat tidak berhenti pada dunia lahiriah, melainkan naik — setahap demi setahap
— menuju kesadaran bahwa seluruh eksistensi bergantung kepada Allah ﷻ.
10.
Kesimpulan
Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ
adalah peristiwa agung yang memadukan dimensi transenden dengan hukum-hukum
alam, namun dengan parameter “tak terhingga” yang melampaui keterbatasan
pengukuran manusia. Perjalanan ini:
- Menegaskan keselarasan jasmani dan ruhani: Nabi ﷺ
menempuh latihan panjang, mulai dari kontemplasi di Gua Hira hingga
keutuhan ibadah dan akhlak.
- Memerlukan wasilah yang ditunjuk Allah: Malaikat
Jibril sebagai pembimbing wahyu, Buraq sebagai sarana jasmani, dan para
nabi dalam rantai kenabian yang menyempurnakan dimensi ruhani.
- Menggambarkan sinkronisasi tubuh-jiwa hingga puncak
fana’ total di hadirat Allah ﷻ, di mana kesadaran makhluk lenyap dan yang
tersisa hanyalah kehadiran Sang Pencipta.
Mi’raj menjadi peta eksistensial
bagi manusia:
- Menyadari asal-usul: jasad dari tanah, ruh dari tiupan
Ilahi.
- Melatih diri dengan ibadah, akhlak, dan disiplin
ruhani.
- Menempuh jalan dengan bimbingan wasilah yang sahih.
- Menjaga harmoni tubuh dan jiwa.
- Menggapai mi’raj batin: kesadaran akan kedekatan dengan
Allah yang menumbuhkan cinta, syukur, dan kemampuan menunaikan amanah
kehidupan.
Dari perspektif ilmiah, fenomena ini
tidak keluar dari koridor hukum fisika, namun berada pada domain tak
terhingga, di mana teori relativitas, dimensi tambahan, medan kuantum,
hingga horizon peristiwa hanya menyentuh batas paling luar realitas. Di atas
batas itu, manusia hanya bisa tunduk kepada Yang Maha Tak Terbatas.
Akhir perjalanan ini ditegaskan oleh
ayat:
“Inna lillahi wa inna ilaihi
raji‘un” – Kita berasal dari Allah, dan kita
akan kembali kepada-Nya melalui tahapan lahir, sinkronisasi, wasilah, dan
fana’.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan sekadar peristiwa
sejarah, tetapi metodologi universal bagi ruh manusia untuk kembali
kepada asalnya dengan cahaya ilmu, ibadah, dan penyucian hati.
11.
Daftar Referensi
Al-Qur’an
- QS Al-Isra [17]:1 – Perjalanan Isra’ dan Mi’raj.
- QS An-Najm [53]:17–18 – Penglihatan Nabi di Sidratul
Muntaha.
- QS Al-Hijr [15]:29 – Penciptaan manusia dan tiupan ruh.
- QS Al-Muzzammil [73]:1–6 – Latihan ibadah malam.
- QS Al-Muddatsir [74]:1–7 – Perintah menyampaikan
risalah.
- QS Al-Maidah [5]:35 – Perintah mencari wasilah.
- QS Al-Kahfi [18]:65–66 – Kisah Musa dan Khidir tentang
bimbingan ruhani.
- QS Al-Mu’minun [23]:12–14 – Asal usul jasmani manusia.
Hadis
- Shahih Bukhari & Muslim, Kitab Bad’ul Wahyi
dan Kitab Isra’ Mi’raj.
- HR Baihaqi: “Shalat adalah mi’raj bagi orang
beriman.”
- HR Tirmidzi: “Ulama adalah pewaris para nabi.”
- HR Bukhari-Muslim: “Dalam tubuh ada segumpal
daging…”
Tasawuf
& Pemikiran Islam
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.
- Ibn Arabi, Futuhat al-Makkiyah.
- Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
- Abdul Karim al-Jili, Al-Insan al-Kamil.
- Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred.
Sains
& Fisika
- Albert Einstein, Relativity: The Special and the
General Theory.
- Brian Greene, The Fabric of the Cosmos; The
Elegant Universe.
- Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems.
- Michio Kaku, Parallel Worlds; Hyperspace.
- Stephen Hawking, A Brief History of Time.
- Penelitian tentang teori string, dimensi tambahan, dan
horizon peristiwa.
- Literatur tentang medan kuantum dan kosmologi modern.
Literatur
Tambahan
- Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam.
- William Chittick, The Sufi Path of Knowledge.
- Karen Armstrong, Muhammad: A Prophet for Our Time.
- Penelitian psikologi transpersonal tentang pengalaman
puncak (peak experiences).
- Artikel akademik tentang hubungan sains dan tasawuf
dalam studi kosmologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar