Translate

oc6080743

at26968586

Selasa, 16 September 2025

PERJALANAN ISRA’ DAN MI’RAJ: REALITA TRANSCENDEN, ENERGI ILAHI, WASILAH, DAN KELEBURAN JASAD-RUH DALAM KEHADIRAN ALLAH

Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa monumental yang dialami Nabi Muhammad ﷺ, di mana beliau diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’), kemudian dinaikkan melalui lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Peristiwa ini disebut dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, serta menjadi rujukan penting dalam kajian aqidah, tasawuf, dan filsafat Islam.
"Cari dan dapatkanlah apa yang dibutuhkan oleh dirimu selama engkau masih hidup, jika tidak engkau akan hidup merana (tidak pernah puas) selamanya walaupun engkau telah tiada" 

Oleh Ahmad Fakar

1. Pendahuluan

Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa monumental yang dialami Nabi Muhammad ﷺ, di mana beliau diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’), kemudian dinaikkan melalui lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Peristiwa ini disebut dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, serta menjadi rujukan penting dalam kajian aqidah, tasawuf, dan filsafat Islam.

Dalil Al-Qur’an

·   QS Al-Isra [17]:1: “Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

·  QS An-Najm [53]:13-18: menjelaskan bagaimana Nabi melihat tanda-tanda kebesaran Allah di Sidratul Muntaha dengan pandangan yang tetap dan tidak melampaui batas.

·  QS Al-Hijr [15]:29: tentang ditiupkannya ruh ke dalam jasad manusia, menjadi dasar konsep penyatuan jasmani dan ruhani.

Hadis-hadis sahih (Shahih Bukhari & Muslim) menggambarkan perjalanan Nabi secara detail: mulai dari pembersihan dada dengan air Zamzam, ditemani Malaikat Jibril, mengendarai Buraq, hingga bertemu para nabi di setiap lapisan langit sebelum sampai di hadirat Allah.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa pencapaian spiritual tertinggi memerlukan keselarasan jasmani dan ruhani, serta bimbingan langsung dari Allah melalui wasilah (perantara yang sah). Para ulama besar seperti Imam Nawawi dan Al-Ghazali menegaskan bahwa Mi’raj Nabi adalah peristiwa nyata yang melibatkan tubuh dan jiwa, sekaligus simbol jalan ruhani bagi umat.

Pandangan ulama

·   Imam Nawawi: Isra’ dan Mi’raj terjadi dengan ruh dan jasad.

·   Al-Ghazali: Mi’raj adalah teladan bagi manusia untuk naik menuju Allah melalui ibadah dan penyucian diri.

·  Ibn Arabi: Mi’raj Nabi adalah contoh sempurna perjalanan ke “hakikat wujud”, puncak penyatuan kesadaran makhluk dengan kesadaran Ilahi.

Dari sudut pandang ilmu pengetahuan modern, Isra’ dan Mi’raj memberi inspirasi bagi eksplorasi hubungan antara materi, kesadaran, dan dimensi alam semesta:

  • Teori Relativitas Einstein menunjukkan waktu bersifat relatif terhadap kecepatan dan gravitasi; hal ini membuka pemahaman tentang perjalanan lintas ruang-waktu yang sangat cepat.
  • Kosmologi & Teori String memprediksi adanya dimensi tambahan selain tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Mi’raj dapat dipahami sebagai perjalanan ke dimensi yang lebih tinggi dengan izin Allah.
  • Fisika Kuantum menyingkap bahwa partikel dan energi dapat berada dalam keadaan “superposisi”, memberi analogi bagi pengalaman spiritual yang melampaui batas ruang dan materi.
  • Neurosains & psikologi transpersonal meneliti fenomena “peak experience” dan kesadaran non-dual, yang memberi ilustrasi bagaimana manusia dapat mengalami keadaan yang melampaui ego.

Keseluruhan dalil dan temuan ini memperlihatkan bahwa Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar kisah sejarah atau legenda. Ia adalah peta ruhani dan intelektual yang menjembatani iman, akal, dan sains: menunjukkan bahwa untuk mencapai kehadiran Ilahi, manusia perlu mengharmonikan jasad dan ruh, membersihkan hati, mengikuti syariat, dan menempuh jalan dengan wasilah yang benar.


2. Dalil Al-Qur’an dan Keterkaitan dengan Ilmu

a. QS Al-Isra [17]:1

“Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat ini memakai kata ‘abdihi (hamba-Nya), menunjukkan bahwa perjalanan itu mencakup jasad dan ruh Nabi Muhammad ﷺ. Tidak hanya pengalaman batin, tetapi juga fisik yang nyata. Ini ditegaskan dalam hadis sahih: dada Nabi dibelah, jantungnya dibersihkan dengan air Zamzam, melambangkan persiapan jasmani dan rohani.

Analogi sains: Dalam fisika, ketika suatu sistem akan memasuki “lingkungan baru” yang ekstrem, ia perlu dikalibrasi atau distabilisasi lebih dahulu (misalnya kalibrasi sensor sebelum masuk ruang vakum). Pembersihan dada Nabi bisa diibaratkan kalibrasi spiritual–biologis sebelum memasuki dimensi di luar ruang-waktu normal.


b. QS An-Najm [53]:17–18

“Pandangan (Nabi) tidak menyimpang dan tidak melampaui batas. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda terbesar Tuhannya.”

Ayat ini sering dijadikan dalil tentang keadaan fana’ — lenyapnya kesadaran ego dalam kehadiran Ilahi. Nabi berada dalam titik keseimbangan sempurna: tidak condong ke kiri atau kanan, tetap dalam fokus yang mutlak.

Analogi sains: Dalam mekanika kuantum, ada fenomena “ground state stability”, keadaan paling rendah energi di mana sistem menjadi stabil. Begitu pula Mi’raj Nabi memperlihatkan kondisi kesadaran yang sangat stabil, tidak “bergerak” ke arah selain Allah.


c. QS Al-Hijr [15]:29

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.”

Ayat ini menerangkan asal-usul manusia: jasad dibentuk dari tanah, lalu dihidupkan dengan ruh Ilahi. Dalam konteks Isra’–Mi’raj, ayat ini menjadi dasar pemahaman bahwa perjalanan spiritual sejati terjadi melalui sinergi jasmani dan ruhani yang sempurna.

Analogi sains: Proses “penyatuan unsur” ini sejalan dengan prinsip bioenergi dan interaksi elektromagnetik dalam tubuh manusia. Jasad memerlukan energi vital (dalam bahasa biologi: bioelektrisitas, metabolisme) agar berfungsi. Isra’ dan Mi’raj menunjukkan puncak harmonisasi unsur material dan energi ruhani.


d. QS Al-Māidah [5]:35

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan perantara) untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.”

Ayat ini menegaskan pentingnya wasilah — sarana atau jembatan yang diizinkan Allah untuk mendekat kepada-Nya. Dalam Isra’–Mi’raj, wasilah itu berupa Malaikat Jibril, Buraq, dan para nabi yang menyambut Nabi Muhammad ﷺ di tiap lapisan langit, semuanya tersambung secara ruhani dan jasmani kepada Nabi Ibrahim melalui garis keturunan Ismail.

Analogi sains & hukum alam:

  • Dalam kelistrikan, arus tidak bisa mengalir tanpa konduktor; perlu media agar energi berpindah.
  • Dalam komunikasi data, sinyal butuh protokol dan saluran agar sampai ke tujuan tanpa distorsi.
  • Dalam hukum fisika, gaya hanya dapat bekerja melalui “mediator” (misalnya gravitasi melalui kelengkungan ruang-waktu).

Begitu pula, dalam tatanan ruhani diperlukan “mediator suci” yang diizinkan Allah: wahyu, malaikat, dan guru mursyid yang sahih sanadnya.

Keempat ayat ini memperlihatkan fondasi teologis perjalanan Isra’–Mi’raj:

1.    Realitas fisik dan ruhani Nabi yang dibawa dalam satu kesatuan.

2.    Kesiapan hati dan tubuh sebelum memasuki dimensi Ilahi.

3.    Kehadiran ruh sebagai peniup kehidupan pada jasad.

4.    Keharusan wasilah sebagai saluran menuju Allah, sebagaimana hukum alam memerlukan media bagi perpindahan energi.

Semua ini memperlihatkan keserasian antara dalil wahyu dan prinsip sains: keduanya sama-sama mengakui adanya tatanan dan hukum yang mengatur bagaimana manusia dapat naik ke tingkatan keberadaan yang lebih tinggi dengan izin Allah.


3. Hadis Pokok tentang Isra’ dan Mi’raj

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj terekam dalam hadis-hadis sahih, terutama riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim. Inti riwayatnya sebagai berikut:

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketika aku berada di Hijr (dekat Ka’bah), tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril. Dadaku dibelah, kemudian dibasuh dengan air Zamzam, lalu diisi dengan hikmah dan iman. Setelah itu didatangkan kepadaku seekor hewan putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal; namanya Buraq. Aku menungganginya hingga tiba di Baitul Maqdis. Di sana aku shalat dua rakaat bersama para nabi. Kemudian aku dinaikkan ke langit.”
(HR. al-Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Rincian perjalanan (ringkasan dari berbagai riwayat sahih)

  1. Pembersihan dada

Sebelum perjalanan, Jibril membelah dada Nabi, membersihkan hati dengan air Zamzam, lalu mengisinya dengan cahaya iman dan hikmah. Ini menandakan kesiapan batin dan fisik untuk menerima wahyu dan beban spiritual yang luar biasa.

  1. Isra’ (perjalanan malam)

Nabi mengendarai Buraq, hewan berwarna putih dengan langkah sejauh mata memandang. Dalam waktu singkat beliau sampai di Masjid al-Aqsha, memimpin shalat bersama para nabi.

  1. Mi’raj (kenaikan ke langit)

Nabi bersama Jibril naik melalui berbagai lapisan langit:

    • Langit 1: Nabi Adam.
    • Langit 2: Nabi Isa & Yahya.
    • Langit 3: Nabi Yusuf.
    • Langit 4: Nabi Idris.
    • Langit 5: Nabi Harun.
    • Langit 6: Nabi Musa.
    • Langit 7: Nabi Ibrahim di dekat Baitul Ma’mur.

Semua nabi yang ditemui berasal dari garis keturunan Nabi Ibrahim, khususnya melalui Ismail, untuk menguatkan sanad jasmani dan ruhani Rasulullah ﷺ.

  1. Sidratul Muntaha

Setelah itu, Nabi sampai di pohon Sidratul Muntaha, batas terakhir makhluk. Jibril berhenti; hanya Nabi yang melanjutkan mendekat ke hadirat Allah ﷻ.

  1. Perintah shalat

Allah mewajibkan shalat 50 kali sehari. Nabi Musa menyarankan agar meminta keringanan. Nabi beberapa kali “naik-turun” hingga menjadi 5 waktu, dengan pahala setara 50.

  1. Kembali ke Makkah

Nabi kembali ke Masjidil Haram sebelum fajar; tempat tidur beliau masih hangat, menandakan perjalanan berlangsung sangat singkat menurut ukuran bumi.


Makna spiritual

  • Jibril adalah wasilah utama: malaikat wahyu yang menuntun Nabi menapaki dimensi gaib.
  • Buraq melambangkan sarana yang memadukan unsur ruhani dan jasmani.
  • Pertemuan dengan para nabi menunjukkan kesinambungan risalah dan sanad kenabian.
  • Sidratul Muntaha adalah simbol batas pengetahuan semua makhluk; di atasnya hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
  • Shalat menjadi buah tertinggi perjalanan: media penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya.

Ilustrasi ilmiah

Walau tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sains, perjalanan ini tidak meniadakan hukum-hukum alam ciptaan Allah. Ada beberapa analogi yang membantu memvisualisasikan peran “wasilah” (Jibril, Buraq, para nabi):

  • Dalam fisika materi, kita mengenal perubahan wujud: padat → cair → gas → plasma. Tiap wujud memerlukan energi tertentu agar transisi terjadi. Begitu pula, Jibril, Buraq, dan para nabi yang ditemui Nabi dapat dianalogikan sebagai fase transisi dalam perjalanan energi ruhani-jasmani: konduktor yang memungkinkan Nabi berpindah dari “kepadatan” duniawi ke “keluwesan” dimensi tinggi.
  • Dalam relativitas, kecepatan mendekati cahaya memperlambat waktu relatif terhadap pengamat diam, memberi gambaran bahwa Mi’raj mungkin terjadi dalam “durasi pendek” di bumi, namun mencakup pengalaman panjang pada kerangka lain.
  • Dalam kosmologi, alam semesta diduga memiliki lebih dari empat dimensi. Wasilah-wasilah Mi’raj dapat dipandang sebagai “jembatan energi” yang menyambungkan dimensi terbatas dengan dimensi yang lebih halus.
  • Dalam psikologi transpersonal, dikenal “peak experience” atau kesadaran non-dual, di mana ego lenyap dan yang tersisa hanyalah kesadaran murni — meski Mi’raj Nabi tentu jauh lebih agung dan nyata.

Hadis-hadis sahih memperlihatkan bahwa Isra’–Mi’raj:

  1. Terjadi dengan jasmani dan ruhani Nabi.
  2. Melibatkan wasilah suci: Jibril, Buraq, dan para nabi pewaris Ibrahim, yang dapat dianalogikan sebagai “medium” dalam transformasi energi.
  3. Berpuncak pada fana’ (lenyapnya kesadaran selain Allah) di Sidratul Muntaha.
  4. Menghasilkan shalat lima waktu sebagai hadiah yang memelihara hubungan hamba dengan Allah.

4. Pembentukan & Latihan Nabi

Sejak usia akil baligh hingga menjelang Isra’–Mi’raj, Nabi Muhammad ﷺ mengalami proses pembentukan jasmani dan ruhani yang panjang. Proses ini adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan penguatan fisik yang menjadi persiapan menerima wahyu dan perjalanan menembus langit.

a. Menyepi di Gua Hira (Tahannuts)

Riwayat sahih menjelaskan bahwa sebelum turunnya wahyu pertama, Rasulullah ﷺ sering berkhalwat di Gua Hira, sekitar tiga mil dari Makkah. Beliau membawa bekal untuk beberapa malam, beribadah, merenung, dan memutus diri dari hiruk pikuk masyarakat Quraisy yang sarat penyembahan berhala.

HR al-Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahy:

“Beliau senang menyendiri. Beliau biasa pergi ke Gua Hira untuk bertahannuts beberapa malam sebelum kembali kepada keluarganya, lalu mengambil bekal lagi.”

Khalwat ini melatih ketenangan pikiran, fokus batin, dan stamina tubuh: berjalan menanjak, menghadapi dingin malam dan panas siang.

Analogi ilmu: Seperti seorang ilmuwan yang butuh fokus penuh sebelum penemuan besar, atau atlet yang menjalani latihan intensif sebelum pertandingan. Tubuh dan pikiran Nabi ditempa agar stabil menghadapi beban luar biasa.


b. Perintah Qiyamullail: QS Al-Muzzammil [73]:1–6

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit. Separuhnya, atau kurangilah sedikit dari itu, atau lebihkan darinya; dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”

Ayat ini turun setelah wahyu pertama, memerintahkan Nabi bangun malam dan membaca Al-Qur’an secara perlahan. “Perkataan yang berat” di sini ditafsirkan para ulama sebagai wahyu, yang membutuhkan kesiapan mental, spiritual, bahkan fisik.

Analogi ilmu: Aktivitas qiyamullail melatih sistem saraf dan hormon untuk lebih stabil. Secara medis, ibadah malam yang teratur meningkatkan fokus, keseimbangan emosi, dan daya tahan tubuh.


c. Seruan Dakwah: QS Al-Muddatsir [74]:1–7

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu, dan jauhilah (perbuatan dosa)…”

Ayat ini memerintahkan Nabi keluar dari kesendirian menuju misi dakwah. Setelah latihan batin, beliau harus menghadapi masyarakat, menanggung ejekan, tekanan, bahkan ancaman. Semua itu mengasah keberanian, kesabaran, dan kebugaran.


d. Konsistensi hingga akhir hayat

Latihan Nabi tidak berhenti setelah wahyu turun. Beliau terus:

  • Shalat malam (tahajud), bahkan ketika telah dijamin ampunan (HR Muslim).
  • Berzikir di setiap keadaan, mensucikan hati.
  • Puasa (wajib dan sunnah) untuk mendisiplinkan diri.
  • Jihad dan dakwah: perjalanan panjang, peperangan defensif, dan perjuangan sosial membentuk ketahanan jasmani yang luar biasa.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam dan hadis sahih diceritakan bahwa Nabi tetap mendirikan tahajud, berpuasa, dan aktif berdakwah hingga wafat.


e. Makna spiritual & ilmiah

  1. Latihan jasmani (pendakian ke Hira, jihad, puasa) memperkuat daya tahan tubuh.
  2. Latihan ruhani (tafakkur, qiyamullail, zikir) melatih kesadaran, ketenangan, dan konsentrasi.
  3. Proses ini menciptakan sinergi tubuh–ruh, memungkinkan Nabi menerima “beban wahyu” yang dalam beberapa riwayat terasa sangat berat, hingga unta yang ditunggangi ikut terduduk.

Analogi ilmu:

  • Dalam psikologi modern, latihan mental yang konsisten (meditasi, fokus pernapasan) terbukti menguatkan area otak yang mengatur emosi dan ketahanan stres.
  • Dalam fisiologi, disiplin fisik dan tidur teratur memperkuat sistem imun, kardiovaskular, dan saraf.

Proses panjang sejak Gua Hira, qiyamullail, hingga jihad dan dakwah adalah “madrasah Ilahi” yang membentuk Nabi Muhammad ﷺ menjadi manusia paling siap menerima amanah wahyu dan perjalanan Mi’raj. Keseimbangan antara latihan jasmani dan ruhani menjadikan beliau contoh sempurna bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah dengan cara yang sehat, seimbang, dan berkesinambungan.


5. Dimensi Jasmani dan Ruhani

Manusia dalam pandangan Islam adalah kesatuan jasad dan ruh yang Allah ciptakan secara bersamaan, lalu diberi potensi untuk berkembang menuju-Nya. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ menunjukkan bagaimana kedua dimensi itu dapat tersinkron, bahkan melewati batas-batas ruang dan waktu ketika mendapat izin dan daya dari Allah.


a. Penciptaan Manusia: Jasad dan Ruh

Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia berasal dari tanah, kemudian Allah meniupkan ruh ke dalamnya:

QS Al-Hijr [15]:29

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Ayat ini menegaskan:

  • Jasad manusia berasal dari unsur bumi (tanah, mineral, energi biologis).
  • Ruh adalah tiupan langsung dari Allah, sumber kesadaran dan kehidupan.

Para ulama seperti Imam Fakhruddin ar-Razi dan Ibn Katsir menafsirkan bahwa ruh bukan sekadar nyawa biologis, melainkan pancaran perintah Allah yang memberi identitas dan kesadaran pada manusia.


b. Keselarasan Jasmani–Ruhani dalam Mi’raj

Isra’ Mi’raj bukan hanya perjalanan ruh, dan bukan pula semata perjalanan jasad. Mayoritas ulama Ahlussunnah menyatakan keduanya hadir bersamaan. Hal ini ditunjukkan oleh:

  • Kata “abd” (hamba) dalam QS Al-Isra [17]:1 – menunjukkan keseluruhan diri Nabi, jasmani sekaligus ruhani.
  • Riwayat tentang Buraq (alat transportasi fisik) dan Malaikat Jibril (pembimbing ruhani), mengindikasikan kedua dimensi bekerja selaras.

Dalam Mi’raj, jasad Nabi tidak hancur, tetapi ikut mengalami “pendakian” bersama ruh, hingga keduanya berada di wilayah yang tidak terjangkau hukum alam biasa.


c. Proses Sinkronisasi

Mi’raj memberi pelajaran bahwa:

  1. Jasad perlu dilatih: menjaga kesehatan, disiplin, ibadah yang melibatkan tubuh (shalat, puasa, jihad).
  2. Ruh perlu dimurnikan: zikir, tafakkur, qiyamullail, keikhlasan.
  3. Jika keduanya selaras, maka lahir kesadaran puncak — manusia tidak lagi terbelenggu keterbatasan indrawi, namun tetap memelihara akhlak dalam kehidupan dunia.

Dalam tasawuf, kondisi ini disebut ittihad al-qalb wal-jasad — harmoni antara hati dan tubuh yang memantulkan cahaya Ilahi.


d. Fase “Lebur” di Hadirat Ilahi

Riwayat Mi’raj menyebutkan ketika Nabi ﷺ sampai di Sidratul Muntaha, beliau tidak lagi menoleh, bahkan “lupa” pada diri dan makhluk lain; yang tersisa hanyalah kesadaran akan Allah:

QS An-Najm [53]:17–18

“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”

Dalam perspektif tasawuf, momen itu disebut fana’ fillah — lenyapnya kesadaran ego, menyisakan penyaksian akan Yang Maha Mutlak. Bukan jasad Nabi yang hilang, tetapi identitas hamba tenggelam dalam keagungan Allah, bagaikan kabel yang dialiri listrik: bentuk kabel tetap ada, tetapi seluruhnya dihidupi oleh daya yang tak terbatas.


e. Analogi dan Referensi Sains

  1. Fisika Relativitas & Dimensi Tambahan
    • Menurut Einstein, waktu dan ruang dapat “melentur” pada kecepatan tinggi. Mi’raj dapat dipahami sebagai peristiwa yang melibatkan dimensi lebih tinggi, di luar tiga dimensi ruang yang kita kenal.
    • Teori string dan hipotesis multiverse menyatakan ada ruang tersembunyi yang hanya bisa “diakses” bila energi tertentu tercapai.
  2. Biologi & Neurosains
    • Tubuh manusia menghasilkan gelombang otak yang berbeda saat meditasi dalam. Penelitian menunjukkan keadaan “kesadaran puncak” melibatkan sinkronisasi berbagai area otak (gamma synchrony).
    • Ini memberi analogi bahwa harmoni jasmani–ruh (atau tubuh–kesadaran) memungkinkan pengalaman transendental.
  3. Psikologi Eksistensial
    • Viktor Frankl dan Abraham Maslow menyebut adanya “peak experience”, di mana individu mengalami makna dan kesatuan mendalam dengan realitas. Walaupun levelnya manusiawi, ia menjadi bayangan kecil dari Mi’raj yang sempurna.

Dimensi jasmani dan ruhani bukan dua entitas yang bertentangan, melainkan dua sisi yang Allah selaraskan dalam diri manusia. Melalui disiplin, ibadah, dan rahmat Ilahi, keduanya dapat:

  1. Tersinkron, sehingga kesadaran tidak hanya hidup di dunia materi, tetapi juga terbuka pada dimensi Ilahi.
  2. Mencapai titik fana’, di mana ego dan keterbatasan sirna dalam kesadaran akan Allah Yang Maha Tunggal.

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ adalah puncak teladan: bukti bahwa manusia, bila dibimbing wahyu dan menjaga harmoni tubuh–ruh, mampu mencapai kedekatan yang melampaui batas logika biasa, namun tetap berada dalam kerangka tauhid.


6. Sinkronisasi dan Fana’ Total

1. Pembentukan

  • Allah ﷻ menciptakan manusia dari tanah, lalu meniupkan ruh ke dalam jasad:

“Kemudian apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.” (QS Al-Ḥijr [15]:29)

  • Ayat ini menunjukkan dua unsur dasar: materi jasmani dan daya ruhani yang berasal dari Allah.

Ilmu alam: Biologi menjelaskan bahwa tubuh manusia terbentuk dari unsur karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, fosfor, dan mineral lainnya — unsur yang juga terdapat dalam tanah. Fisika-kuantum mengingatkan bahwa semua materi pada dasarnya adalah energi yang “mengeras” menjadi bentuk stabil.


2. Sinkronisasi

  • Agar kedua dimensi ini (jasmani & ruhani) selaras, diperlukan tazkiyah (penyucian jiwa) dan riyāḍah (latihan).
  • Nabi ﷺ menempuhnya sejak akil baligh: tahannuts di Gua Hira, qiyāmul-lail, zikir, puasa, dakwah, jihad dengan sabar.
  • QS Al-Muzzammil [73]:1–6 menekankan disiplin malam:

“Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit… bacalah Al-Qur’an dengan tartil.”

  • Disiplin ini mengokohkan tubuh, menguatkan hati, dan memurnikan kesadaran agar keduanya dapat bekerja harmonis.

Sains kognitif: Praktik meditasi dan ibadah mendalam terbukti meningkatkan konektivitas antara korteks prefrontal dan sistem limbik, menghasilkan keseimbangan emosi, fokus, dan ketenangan tubuh. Latihan berulang juga membentuk “neuroplasticity” yang memperkuat pola kesadaran.


3. Puncak Mi’raj: Fana’ Total

  • Setelah jasad dan ruh Nabi ﷺ terlatih dan selaras, Allah mengangkatnya melampaui langit hingga Sidratul Muntaha.
  • Di sana, sebagaimana QS An-Najm [53]:17 menyatakan:

“Penglihatannya (Nabi) tidak berpaling dan tidak melampaui batas.”

  • Ini fase fana’: kesadaran hamba larut dalam kehadiran Sang Pencipta. Tidak ada lagi “aku”, yang ada hanya Allah ﷻ.
  • Hadis riwayat Bukhari-Muslim menggambarkan Nabi menerima shalat di puncak kedekatan itu, sebelum kembali membawa syariat bagi umat.

Analogi: Seperti kabel dan listrik. Kabel (jasmani & ruhani) hanyalah wadah yang siap menerima aliran. Saat arus Ilahi mengalir penuh, yang terasa hanyalah daya itu sendiri, bukan lagi wadahnya.

Sains kesadaran: Dalam studi tentang “peak experience” atau pengalaman puncak (Abraham Maslow), individu pada momen transendensi sering melaporkan hilangnya batas diri, kesatuan total, dan kedamaian mendalam. Meski berbeda dimensi dengan Mi’raj Nabi ﷺ yang bersifat wahyu dan hakiki, fenomena ini memberikan gambaran bahwa kesadaran manusia memang dapat melampaui persepsi ego biasa ketika difasilitasi oleh latihan yang benar dan izin Ilahi.


Peristiwa Mi’raj mengajarkan bahwa:

  • Tubuh manusia dapat dipersiapkan melalui latihan jasmani & ruhani.
  • Ruh yang suci mampu selaras dengan jasad yang terjaga.
  • Dengan izin Allah, keduanya bisa melebur dalam pengalaman ilahiah yang murni — puncak dari perjalanan hamba menuju Tuhannya.

7. Wasilah: Syarat Perjalanan Ruhani

Perjalanan ruhani sebesar Isra’ dan Mi’raj tidak mungkin terjadi hanya dengan kemampuan manusia biasa. Ia memerlukan wasilah — sarana yang ditunjuk Allah ﷻ sebagai penghubung antara yang terbatas dan Yang Mahabesar.

a. Hakikat Wasilah

  • Allah memerintahkan agar manusia mencari sarana mendekat kepada-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.”

(QS Al-Māidah [5]:35)

  • Dalam kisah Nabi Musa dan Khidir, tampak bahwa ilmu dan bimbingan khusus harus dicapai melalui guru yang diutus Allah:

“…lalu mereka mendapati seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami beri rahmat dari sisi Kami, dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajariku ilmu yang benar di antara ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’”

(QS Al-Kahfi [18]:65–66)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa pendekatan kepada Allah dan pencapaian pengetahuan ruhani tertinggi memerlukan bimbingan dan sarana yang telah ditetapkan-Nya.


b. Wasilah dalam Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ

  1. Malaikat Jibril
    • Pendamping utama Nabi sejak wahyu pertama (QS Al-‘Alaq [96]:1–5).
    • Dalam Mi’raj, Jibril menjadi pemandu, penjelas, sekaligus penjaga batas (HR Bukhari-Muslim).
  2. Buraq
    • Kendaraan bercahaya yang menghubungkan Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu ke langit.
    • Menjadi simbol wasilah jasmani, yakni sarana yang memungkinkan tubuh Nabi menempuh dimensi di luar kebiasaan alam.
  3. Para Nabi keturunan Ibrahim melalui Ismail
    • Nabi Muhammad ﷺ bertemu mereka di tiap lapisan langit: Adam, Isa & Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim (HR Bukhari-Muslim).
    • Mereka adalah bagian dari rantai kenabian, menghubungkan Nabi ﷺ secara ruhani dan jasmani kepada sumber ketauhidan Ibrahim.

Semua unsur ini merupakan “konduktor energi Ilahi” yang menjembatani maqām manusia menuju hadirat Ilahi.


c. Analogi Sains

  • Konduktor Listrik

Arus listrik hanya bisa mengalir bila ada medium penghantar. Tembaga atau emas menjadi wasilah yang memungkinkan energi bergerak tanpa hambatan besar.

  • Enzim Biologis

Dalam tubuh, reaksi kimia tidak akan berlangsung cepat tanpa enzim. Enzim menjadi katalis — mempercepat proses dengan mengurangi energi aktivasi.

  • Katalis dalam Kimia

Banyak reaksi memerlukan zat katalis agar berlangsung sempurna. Tanpa katalis, energi yang dibutuhkan terlalu besar sehingga proses terhenti.

Begitu pula perjalanan ruhani: ia memerlukan “katalis Ilahi” agar hamba dapat melampaui dimensi normal. Jibril, Buraq, dan para nabi yang ditemui Nabi Muhammad ﷺ adalah “katalis” yang Allah hadirkan untuk memperlancar arus daya ruhani menuju maqām tertinggi.

Dengan demikian dapat diartikan bahwa:

  • Wasilah adalah hukum tetap yang Allah tetapkan dalam sunnatullah-Nya: tidak ada pencapaian ruhani tanpa bimbingan dan sarana yang sah.
  • Dalam Mi’raj, malaikat, kendaraan cahaya, dan rantai kenabian menjadi jembatan yang menghubungkan Nabi ﷺ dengan alam malakut dan puncak kedekatan dengan Allah ﷻ.
  • Seperti hukum alam yang memerlukan perantara untuk menyalurkan energi atau mempercepat reaksi, demikian pula jalan ruhani memerlukan perantara suci yang ditetapkan oleh Tuhan.

8. Perspektif Sains

Isra’ dan Mi’raj adalah mukjizat yang melampaui pengalaman biasa manusia. Meski begitu, peristiwa ini tidak meniadakan hukum ciptaan Allah; ia berjalan di atas keteraturan yang sama, hanya saja pada tingkatan yang tidak terjangkau oleh rumus atau alat ukur manusia. Untuk membantu imajinasi modern, kita dapat melihatnya melalui analogi sains, dengan memperluas hukum fisika ke arah parameter “tak terhingga” — wilayah di mana teori konvensional berhenti, tetapi tetap berada dalam sistem yang diciptakan Allah.


a. Relativitas Waktu

  • Dalam teori relativitas Einstein, waktu dan ruang bukanlah mutlak. Gerakan mendekati kecepatan cahaya atau medan gravitasi ekstrem dapat memperlambat atau “membengkokkan” waktu.
  • Jika konsep ini diekstrapolasi ke skala tak terhingga yang berada di bawah kendali langsung Sang Pencipta, perjalanan sejauh alam raya dalam “satu malam” menjadi mungkin dalam kerangka keteraturan ciptaan.

b. Dimensi Tambahan

  • Teori string dan kosmologi modern membuka kemungkinan adanya dimensi lebih dari tiga ruang dan satu waktu.
  • Mi’raj dapat dianalogikan sebagai akses yang diizinkan Allah ke dimensi-dimensi itu — sesuatu yang berada di luar kemampuan teknologi manusia, tetapi tidak di luar ciptaan-Nya.

c. Medan Kuantum & Kesatuan Energi

  • Fisika kuantum menunjukkan bahwa semua partikel muncul dari medan energi dasar yang menyelimuti alam semesta.
  • Mukjizat tidak menghancurkan jaringan ini, melainkan memanfaatkan hukum yang sama pada skala tak terhingga, ketika energi dan eksistensi berada dalam kesatuan yang melampaui batas pengukuran.

d. Horizon Peristiwa & Fana’

  • Di sekitar horizon peristiwa lubang hitam, waktu dan ruang mengalami distorsi sedemikian rupa sehingga bagi pengamat luar keduanya nyaris berhenti.
  • Dengan memperluas fenomena ini ke tingkat tak terhingga, kita dapat membayangkan keadaan di Sidratul Muntaha: Nabi ﷺ tidak lagi merasakan dirinya; yang hadir hanyalah Allah (QS An-Najm [53]:17).

e. Konduksi Energi dan Wasilah

  • Dalam fisika, energi memerlukan medium atau katalis agar dapat berpindah (konduktor listrik, enzim biologis, katalis reaksi).
  • Wasilah yang Allah tunjuk — Malaikat Jibril, Buraq, para nabi dalam rantai keturunan Ibrahim melalui Ismail — dapat dianalogikan sebagai “konduktor” yang memungkinkan jasad dan ruh Nabi ﷺ menerima dan menghantarkan daya Ilahi sehingga mampu melampaui batas ruang-waktu.

Mukjizat Mi’raj tidak menafikan hukum alam; ia adalah operasi hukum ciptaan pada skala tak terhingga yang melampaui batas observasi manusia. Hukum fisika yang kita kenal hanyalah model untuk domain yang terbatas, sedangkan Mi’raj memperlihatkan tingkat keteraturan yang lebih luas, diatur langsung oleh kehendak Allah ﷻ.


9. Mi’raj sebagai Peta Bagi Umat

Perjalanan Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar mukjizat eksklusif Nabi Muhammad ﷺ, melainkan peta ruhani yang menunjukkan bagaimana manusia, sesuai kapasitasnya, dapat mendekat kepada Allah melalui penyucian diri dan keterhubungan dengan wasilah yang benar. Tidak seorang pun akan mencapai tingkat Nabi ﷺ, namun setiap mukmin dapat memperoleh “percikan Mi’raj” dalam bentuk kesadaran Ilahi yang mendalam.

9.1. Menyadari Asal-Usul Jasmani & Ruhani

  • Allah ﷻ menciptakan manusia dari tanah (QS Al-Mu’minun [23]:12) dan meniupkan ruh-Nya (QS Al-Hijr [15]:29).
  • Kesadaran akan dua unsur ini menumbuhkan keseimbangan: tubuh dipelihara dengan halal, ruh disuburkan dengan zikir, doa, dan ilmu.
  • Sains: Biologi menjelaskan tubuh tersusun dari unsur bumi (karbon, oksigen, hidrogen), sedangkan kesadaran belum sepenuhnya dijelaskan; ini membuka ruang untuk aspek ruhani.

9.2. Menempuh Disiplin Ibadah dan Akhlak

  • Nabi ﷺ diperintahkan: “Bangunlah (untuk shalat) di malam hari kecuali sedikit” (QS Al-Muzzammil [73]:1–6).
  • Ibadah (shalat, puasa, zikir) dan akhlak yang luhur menyelaraskan jasad dan ruh, menjadi latihan menuju mi’raj batin.
  • Sains: Latihan yang konsisten (habit) mengubah jaringan otak (neuroplastisitas) dan memperkuat pusat regulasi emosi, mendukung kesadaran yang lebih tinggi.

9.3. Mengikuti Wasilah yang Benar

  • QS Al-Maidah [5]:35: “Carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya.”
  • Nabi ﷺ bersabda: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR Tirmidzi).
  • Wasilah mencakup syariat Nabi ﷺ, guru ruhani yang sahih, ilmu yang benar, dan komunitas saleh. Mereka ibarat konduktor energi yang menyalurkan cahaya hidayah.
  • Sains: Dalam pembelajaran, keberadaan mentor mempercepat pencapaian (konsep scaffolding dalam psikologi pendidikan).

9.4. Menyelaraskan Tubuh dan Jiwa

  • Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik, baiklah seluruh tubuh…” (HR Bukhari-Muslim).
  • Penyelarasan tubuh dan jiwa menuntut keseimbangan antara hak jasad (makan, istirahat, olahraga) dan hak ruh (ibadah, tafakkur).
  • Sains: Kesehatan tubuh berpengaruh pada kestabilan psikis (hubungan gut-brain axis, hormon, dan sistem saraf otonom).

9.5. Mengalami “Mi’raj Batin”

  • Shalat disebut Nabi ﷺ sebagai “Mi’raj bagi orang beriman” (HR Baihaqi).
  • Melalui shalat khusyuk, zikir mendalam, dan fana’ dalam cinta Allah, hamba dapat merasakan kedekatan Ilahi — meskipun tidak mencapai maqam Nabi ﷺ di Sidratul Muntaha.
  • Sains: Penelitian tentang meditasi dan pengalaman transendental menunjukkan bahwa kesadaran dapat memasuki keadaan “non-dual”, seolah lenyapnya batas diri; ini menjadi analogi yang membantu memahami fana’.

Mi’raj memberi teladan bahwa jalan menuju Allah melibatkan:

  1. Kesadaran akan jasmani dan ruhani.
  2. Latihan spiritual dan akhlak yang konsisten.
  3. Bimbingan wasilah yang sahih.
  4. Keseimbangan tubuh dan jiwa.
  5. Puncak berupa rasa kedekatan dengan Allah, yang menumbuhkan cinta, syukur, dan kesanggupan mengemban amanah.

Mukjizat Nabi ﷺ menjadi peta agar umat tidak berhenti pada dunia lahiriah, melainkan naik — setahap demi setahap — menuju kesadaran bahwa seluruh eksistensi bergantung kepada Allah ﷻ.


10. Kesimpulan

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ adalah peristiwa agung yang memadukan dimensi transenden dengan hukum-hukum alam, namun dengan parameter “tak terhingga” yang melampaui keterbatasan pengukuran manusia. Perjalanan ini:

  • Menegaskan keselarasan jasmani dan ruhani: Nabi ﷺ menempuh latihan panjang, mulai dari kontemplasi di Gua Hira hingga keutuhan ibadah dan akhlak.
  • Memerlukan wasilah yang ditunjuk Allah: Malaikat Jibril sebagai pembimbing wahyu, Buraq sebagai sarana jasmani, dan para nabi dalam rantai kenabian yang menyempurnakan dimensi ruhani.
  • Menggambarkan sinkronisasi tubuh-jiwa hingga puncak fana’ total di hadirat Allah ﷻ, di mana kesadaran makhluk lenyap dan yang tersisa hanyalah kehadiran Sang Pencipta.

Mi’raj menjadi peta eksistensial bagi manusia:

  1. Menyadari asal-usul: jasad dari tanah, ruh dari tiupan Ilahi.
  2. Melatih diri dengan ibadah, akhlak, dan disiplin ruhani.
  3. Menempuh jalan dengan bimbingan wasilah yang sahih.
  4. Menjaga harmoni tubuh dan jiwa.
  5. Menggapai mi’raj batin: kesadaran akan kedekatan dengan Allah yang menumbuhkan cinta, syukur, dan kemampuan menunaikan amanah kehidupan.

Dari perspektif ilmiah, fenomena ini tidak keluar dari koridor hukum fisika, namun berada pada domain tak terhingga, di mana teori relativitas, dimensi tambahan, medan kuantum, hingga horizon peristiwa hanya menyentuh batas paling luar realitas. Di atas batas itu, manusia hanya bisa tunduk kepada Yang Maha Tak Terbatas.

Akhir perjalanan ini ditegaskan oleh ayat:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” – Kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya melalui tahapan lahir, sinkronisasi, wasilah, dan fana’.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi metodologi universal bagi ruh manusia untuk kembali kepada asalnya dengan cahaya ilmu, ibadah, dan penyucian hati.


11. Daftar Referensi

Al-Qur’an

  • QS Al-Isra [17]:1 – Perjalanan Isra’ dan Mi’raj.
  • QS An-Najm [53]:17–18 – Penglihatan Nabi di Sidratul Muntaha.
  • QS Al-Hijr [15]:29 – Penciptaan manusia dan tiupan ruh.
  • QS Al-Muzzammil [73]:1–6 – Latihan ibadah malam.
  • QS Al-Muddatsir [74]:1–7 – Perintah menyampaikan risalah.
  • QS Al-Maidah [5]:35 – Perintah mencari wasilah.
  • QS Al-Kahfi [18]:65–66 – Kisah Musa dan Khidir tentang bimbingan ruhani.
  • QS Al-Mu’minun [23]:12–14 – Asal usul jasmani manusia.

Hadis

  • Shahih Bukhari & Muslim, Kitab Bad’ul Wahyi dan Kitab Isra’ Mi’raj.
  • HR Baihaqi: “Shalat adalah mi’raj bagi orang beriman.”
  • HR Tirmidzi: “Ulama adalah pewaris para nabi.”
  • HR Bukhari-Muslim: “Dalam tubuh ada segumpal daging…”

Tasawuf & Pemikiran Islam

  • Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.
  • Ibn Arabi, Futuhat al-Makkiyah.
  • Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
  • Abdul Karim al-Jili, Al-Insan al-Kamil.
  • Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred.

Sains & Fisika

  • Albert Einstein, Relativity: The Special and the General Theory.
  • Brian Greene, The Fabric of the Cosmos; The Elegant Universe.
  • Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems.
  • Michio Kaku, Parallel Worlds; Hyperspace.
  • Stephen Hawking, A Brief History of Time.
  • Penelitian tentang teori string, dimensi tambahan, dan horizon peristiwa.
  • Literatur tentang medan kuantum dan kosmologi modern.

Literatur Tambahan

  • Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam.
  • William Chittick, The Sufi Path of Knowledge.
  • Karen Armstrong, Muhammad: A Prophet for Our Time.
  • Penelitian psikologi transpersonal tentang pengalaman puncak (peak experiences).
  • Artikel akademik tentang hubungan sains dan tasawuf dalam studi kosmologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

prtc

at26968586

oc6080741

at26998406