"Cari dan dapatkanlah apa yang dibutuhkan oleh dirimu selama engkau masih hidup, jika tidak engkau akan hidup merana (tidak pernah puas) selamanya walaupun engkau telah tiada"
Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ
bukan hanya kisah mukjizat yang melampaui ruang dan waktu, tetapi juga puncak
perjalanan panjang pembentukan diri, baik secara jasmani maupun ruhani. Ia adalah
“peta jalan” bagi manusia: bagaimana tubuh, pikiran, dan ruh dilatih,
disucikan, kemudian diselaraskan sehingga mampu menyambut limpahan daya Ilahi.
Sejak kelahirannya, Nabi ﷺ telah
melewati tahap-tahap yang menyiapkan integrasi itu. Lahir sebagai yatim setelah
ayahnya, Abdullah, wafat, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib — penjaga
Ka’bah yang mulia. Lingkungan yang sarat tradisi tauhid ini menjadi tanah subur
bagi pembentukan akhlak. Dari sinilah mulai terlihat keterhubungan antara
pendidikan lahiriah dan kesiapan ruhani.
Dalam sains modern, pertumbuhan
pribadi dipengaruhi oleh genetik, lingkungan, dan pengalaman (epigenetik).
Otak manusia menunjukkan plastisitas: jalur-jalur saraf diperkuat oleh
pengalaman berulang. Proses ini sesuai dengan cara Nabi dibina: melalui
keluarga yang penuh hormat, lalu latihan tafakur yang konsisten. Ayat “Bukankah
Kami telah melapangkan dadamu?” (QS Al-Insyirah [94]:1) memberi gambaran
bahwa kesiapan menerima puncak wahyu didahului oleh “pelapangan dada” —
penyucian batin dan kesiapan psikologis.
Isra’ Mi’raj dengan demikian bukan
sekadar anugerah spontan, melainkan hasil pembentukan yang panjang. Sebagaimana
dalam teori resonansi fisika, hanya benda yang berada pada frekuensi tertentu
yang mampu beresonansi dengan sumber energi. Begitu pula ruh: bila jasmani dan
rohani selaras, seseorang siap menerima pancaran daya dari Tuhan melalui
wasilah yang ditetapkan-Nya.
2.
Sejarah Awal Kehidupan Nabi dan Pembentukan Ruhani
Muhammad ﷺ lahir di Makkah tahun 570
M, tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Sejak awal hidupnya ditandai cobaan:
ayah wafat sebelum beliau lahir, ibu meninggal saat beliau berusia enam tahun,
menjadikannya yatim piatu. Kakeknya, Abdul Muthalib, memelihara dengan penuh
kasih; kemudian pamannya, Abu Thalib, melanjutkan pengasuhan.
Lingkungan Ka’bah, pusat ibadah
sejak Nabi Ibrahim, memberikan orientasi tauhid. Walau masyarakat Quraisy
dipenuhi praktik syirik, keberadaan Ka’bah dan tradisi haji tetap menjadi poros
spiritual. Dalam psikologi perkembangan, kehadiran figur yang aman (secure
base) memungkinkan anak tumbuh dengan rasa terlindungi meskipun
lingkungannya penuh tantangan.
Neurosains menjelaskan bahwa masa
kanak-kanak adalah periode kritis untuk pembentukan jaringan saraf yang
mengatur emosi, moralitas, dan pengendalian diri. Hubungan yang sehat
memperkuat area prefrontal yang mengarahkan empati dan kebijaksanaan. Nabi,
dengan bimbingan keluarga dan lingkungan yang memuliakan Ka’bah, diasah untuk
menjadi pribadi yang berintegritas dan penyayang.
Al-Qur’an mengingatkan: “Tidakkah
Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu melindungimu?” (QS Ad-Dhuha [93]:6).
Perlindungan itu mencakup jasmani dan batin, mempersiapkan beliau menghadapi
wahyu dan misi kenabian. Proses pendidikan hidup ini membuktikan bahwa
kejernihan ruh tidak datang instan; ia ditempa oleh pengalaman, latihan
kesabaran, dan lingkungan yang mendukung nilai luhur.
3.
Khalwat di Gua Hira, Turunnya Wahyu, dan Tahap Persiapan
Ketika mendekati usia empat puluh,
Nabi ﷺ sering berkhalwat di Gua Hira, merenung (tafakur) dan berdzikir
mencari kebenaran. Aktivitas itu melatih fokus dan menyucikan jiwa. Dalam
neurosains, praktik kontemplasi atau zikir yang dilakukan konsisten memperkuat
jaringan otak yang mengatur perhatian, kesadaran, dan empati (Davidson &
Goleman, 2017).
Turunnya wahyu pertama — “Iqra’
bismi rabbika…” (QS Al-‘Alaq [96]:1–5) — adalah momen transisi besar.
Malaikat Jibril menjadi wasilah penyampai pesan. Peristiwa pembersihan dada
sebelum Mi’raj (riwayat Muslim) juga menegaskan pentingnya penyucian batin
untuk menerima daya Ilahi.
Dari sisi biologis, pengalaman
spiritual intens sering disertai peningkatan aktivitas sistem limbik dan
korteks prefrontal medial, area yang mengatur makna dan pengaturan emosi. Ini
menunjukkan korelasi antara kesiapan ruhani dan kesiapan biologis.
Ayat-ayat seperti QS Al-Muzzammil
[73]:1–6 mendorong qiyamullail, yang menyeimbangkan tubuh dan jiwa. Tahap ini
mirip proses pemanasan dalam ilmu fisika: sistem dipersiapkan agar stabil
sebelum menerima energi besar. Khalwat Nabi merupakan “kalibrasi” agar
jasad-ruh selaras dalam menghadapi wahyu dan peristiwa Mi’raj.
4.
Wasilah, Power Ilahi, dan Analogi Besi–Magnet
Seluruh fase perjalanan Nabi ﷺ
memperlihatkan peran wasilah. Jibril, para nabi sebelumnya, dan bahkan Buraq
dalam Isra’ adalah sarana yang menghubungkan manusia dengan daya Ilahi. QS
Al-Maidah [5]:35 memerintahkan: “Carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya.”
Analogi besi dan magnet menjelaskan
hubungan itu. Besi di dalam tanah netral, tak memiliki kekuatan tarik. Ia perlu
ditambang, dimurnikan, dicampur logam lain agar kuat. Setelah itu, ketika
ditempel pada magnet besar atau dialiri listrik, domain-domain di dalam besi
selaras dan besi berubah menjadi magnet yang menarik logam lain.
Begitu pula manusia: potensi
jasmani-ruhani yang tersembunyi dibentuk melalui pendidikan, ibadah, dan
perjuangan. Setelah disambungkan dengan sumber energi — Allah melalui wasilah
seperti Jibril, para nabi, dan syariat — potensi itu menjadi daya yang
memancarkan rahmat.
Dalam sains material, magnetisasi
terjadi karena atom-atom besi menyelaraskan spin elektronnya di bawah medan
eksternal. Dalam dimensi spiritual, “medan” itu adalah bimbingan Ilahi. Zikir
yang tekun, syariat yang ditaati, dan niat yang suci menjadikan hati seperti
logam yang siap dimagnetisasi, memancarkan energi kebaikan ke sekitar.
5.
Perspektif Sains: Gelombang Otak dan Gamma Synchrony
Penelitian neurosains tentang
zikir/tafakur (sering disebut meditasi dalam literatur) menunjukkan perubahan
bertahap pada gelombang otak:
- Alpha (8–13 Hz):
muncul saat pikiran mulai tenang, tubuh rileks, namun kesadaran tetap
waspada.
- Theta (4–8 Hz):
terkait introspeksi, kreativitas, dan kedalaman batin.
- Gamma (30–100 Hz):
muncul pada praktisi yang telah mencapai fokus tinggi, mencerminkan
sinkronisasi area otak secara simultan.
Studi Lutz et al. (2004) menemukan
peningkatan luar biasa aktivitas gamma pada praktisi zikir/welas asih
berpengalaman. Review oleh Lee et al. (2018) menunjukkan gamma synchrony
terjadi ketika otak mencapai integrasi tertinggi, menghubungkan area sensorik,
emosional, dan kognitif.
Transisi dari alpha ke gamma mencerminkan
perjalanan kesadaran: dari relaksasi ke fokus mendalam, lalu ke “penyatuan”.
Pada Mi’raj, Nabi ﷺ mengalami keadaan lebih tinggi dari gamma — fana’, hanya
Allah yang hadir (QS An-Najm [53]:17–18). Walau sains belum menjangkau dimensi
ini, paralel antara sinkronisasi otak dan harmoni ruhani memberi bahasa ilmiah
untuk memahami kesiapan jasmani dalam menerima limpahan ruhani.
6.
Mi’raj sebagai Puncak Integrasi Jasmani–Ruhani
Isra’ Mi’raj menunjukkan kemampuan
tubuh dan ruh berinteraksi dengan dimensi di luar persepsi biasa, dengan izin
Allah. Fisika relativitas menjelaskan waktu melambat pada kecepatan tinggi;
teori medan kuantum menggambarkan realitas sebagai jaringan energi yang saling
terkait. Semua ini memberi ilustrasi bahwa alam lebih luas daripada yang dapat
diukur indera.
Dalam Mi’raj, Nabi ﷺ menempuh tujuh
langit, bertemu para nabi, hingga Sidratul Muntaha. Di sana beliau mencapai
fana’: kesadaran total kepada Allah. Perjalanan ini adalah integrasi paripurna
antara jasad yang suci, ruh yang ditopang wahyu, dan pikiran yang fokus.
Bagi umat, Mi’raj adalah peta
ruhani: memulai dari iman, berlatih ibadah dan akhlak, lalu menyelaraskan tubuh
dan jiwa dengan bimbingan yang benar. Walau tidak identik dengan pengalaman
Nabi, manusia dapat meraih “mi’raj hati” — kedekatan dengan Allah yang membawa
kedamaian dan manfaat bagi semesta.
7.
Gamma Synchrony dalam Kehidupan: Jalan Praktis
Gamma synchrony tidak hanya milik
penelitian laboratorium. Dalam kehidupan sehari-hari, zikir, shalat khusyuk,
dan tafakur dapat melatih otak dan hati untuk selaras. Langkah praktis:
- Persiapan (Alpha):
Duduk tenang, membaca basmalah, mengatur napas.
- Pendalaman (Theta):
Memusatkan hati pada kalimat tauhid atau ayat Qur’an, menumbuhkan rasa
syukur dan kasih.
- Sinkronisasi (Gamma):
Saat fokus dan kehadiran hati maksimal, lahir kejernihan dan kedamaian
mendalam.
Seperti penjelasan Braboszcz et al.
(2017), praktisi yang rutin mengalami gamma synchrony lebih besar. Ini
memperkuat kesadaran, empati, dan keseimbangan emosional. Bagi muslim, gamma
synchrony bukan sekadar fenomena biologis; ia adalah buah zikir dan tafakur
yang dilakukan dengan adab, menyalurkan daya Ilahi ke seluruh perilaku.
8.
Kesimpulan
Isra’ Mi’raj adalah puncak perjalanan
jasmani dan ruhani Nabi Muhammad ﷺ. Sejarah hidup, latihan spiritual, wahyu, dan
bimbingan malaikat menjadi rangkaian yang berpadu dengan izin Allah.
Sains eksakta —
dari relativitas hingga neurosains — memberi lensa tambahan untuk melihat
bagaimana tubuh dan pikiran dapat berada dalam keadaan sinkron menuju
pengalaman transenden. Gamma synchrony
adalah ilustrasi ilmiah tentang keselarasan itu: seluruh sistem saraf bekerja
serempak, mendukung kesiapan batin untuk menerima limpahan rahmat.
Seperti besi yang dimagnetisasi oleh medan kuat, manusia
yang ditempa disiplin lahir-batin, disucikan dengan zikir, dan disambungkan ke
daya Ilahi melalui wasilah dapat memancarkan rahmat bagi semesta (rahmatan
lil-‘alamin). Perjalanan ini menuntut ketekunan, keseriusan, dan kesiapan
menerima bimbingan, sebagaimana Nabi ﷺ tunjukkan sepanjang hidupnya.
Namun keselarasan itu memerlukan wasilah
yang benar. Wasilah adalah saluran yang menyalurkan daya Ilahi dari “ruang
kosong” yang berserakan menjadi energi positif yang bermanfaat. Tanpa wasilah
yang sah, meskipun seseorang menempuh latihan panjang dan memahami banyak
teori, yang lahir hanya kepintaran kata-kata tanpa kekuatan yang meneguhkan.
“Power” bisa
datang dari berbagai sumber, tetapi tidak semuanya menjadi hak yang sah untuk
dipakai. Ada kekuatan yang tampak besar tetapi tidak membawa rahmat — bahkan
bisa bersumber dari unsur negatif seperti setan atau iblis. Kekuatan seperti
itu tidak memiliki otoritas dari Allah;
penggunaannya berisiko menyesatkan, merusak, dan membahayakan diri maupun orang
lain.
Isra’ Mi’raj
menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menerima daya Ilahi melalui jalur yang benar:
dibimbing malaikat Jibril, dengan izin Allah, setelah menjalani persiapan
panjang. Itulah rahasia mengapa energi yang diterima menjadi rahmatan
lil-‘alamin, rahmat bagi seluruh alam, bukan sekadar “power” yang
liar.
Bagi siapa pun
yang ingin menempuh jalan spiritual, keberadaan wasilah yang terjamin sanadnya
adalah kunci agar energi yang diperoleh tersalurkan secara murni, aman, dan
bermanfaat. Tanpa itu, proses hanya menjadi aktivitas intelektual tanpa ruh,
atau lebih buruk, menjadi pintu bagi kekuatan yang tidak diberi hak untuk
digunakan.
Referensi
Pilihan
- Al-Qur’an: QS Al-Isra [17]:1; QS An-Najm [53]:17–18; QS
Al-Hijr [15]:29; QS Al-Muzzammil [73]:1–6; QS Al-Muddatsir [74]:1–7; QS
Ad-Dhuha [93]:6; QS Al-Maidah [5]:35.
- Hadis: Shahih Bukhari & Muslim, Kitab Bad’ul Wahyi;
Kitab Isra’ Mi’raj.
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.
- Ibn Arabi, Futuhat al-Makkiyah.
- Einstein, Relativity.
- Brian Greene, The Fabric of the Cosmos.
- Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems.
- Michio Kaku, Parallel Worlds.
- Lutz, A., et al. (2004). Long-term meditators
self-induce high-amplitude gamma synchrony during mental practice.
PNAS.
- Braboszcz, C., et al. (2017). High-amplitude gamma
oscillations in experienced meditators.
- Davidson, R., & Goleman, D. (2017). Altered
Traits.
- Lee, D. J., et al. (2018). Neural oscillations
underlying meditation. Frontiers in Neuroscience.
- Duda, M., et al. (2024). Mindfulness meditation is
associated with global EEG changes….
- Siegel, D. (2012). The Developing Mind.