Translate

oc6080743

at26968586

Rabu, 17 September 2025

Isra’ Mi’raj, Wasilah, dan Gamma Synchrony: Menyatukan Ilmu Ruhani dan Neurosains

 Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya kisah mukjizat yang melampaui ruang dan waktu, tetapi juga puncak perjalanan panjang pembentukan diri, baik secara jasmani maupun ruhani. Ia adalah “peta jalan” bagi manusia: bagaimana tubuh, pikiran, dan ruh dilatih, disucikan, kemudian diselaraskan sehingga mampu menyambut limpahan daya Ilahi.

"Cari dan dapatkanlah apa yang dibutuhkan oleh dirimu selama engkau masih hidup, jika tidak engkau akan hidup merana (tidak pernah puas) selamanya walaupun engkau telah tiada" 

Oleh Ahmad Fakar

1. Pendahuluan

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya kisah mukjizat yang melampaui ruang dan waktu, tetapi juga puncak perjalanan panjang pembentukan diri, baik secara jasmani maupun ruhani. Ia adalah “peta jalan” bagi manusia: bagaimana tubuh, pikiran, dan ruh dilatih, disucikan, kemudian diselaraskan sehingga mampu menyambut limpahan daya Ilahi.

Sejak kelahirannya, Nabi ﷺ telah melewati tahap-tahap yang menyiapkan integrasi itu. Lahir sebagai yatim setelah ayahnya, Abdullah, wafat, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib — penjaga Ka’bah yang mulia. Lingkungan yang sarat tradisi tauhid ini menjadi tanah subur bagi pembentukan akhlak. Dari sinilah mulai terlihat keterhubungan antara pendidikan lahiriah dan kesiapan ruhani.

Dalam sains modern, pertumbuhan pribadi dipengaruhi oleh genetik, lingkungan, dan pengalaman (epigenetik). Otak manusia menunjukkan plastisitas: jalur-jalur saraf diperkuat oleh pengalaman berulang. Proses ini sesuai dengan cara Nabi dibina: melalui keluarga yang penuh hormat, lalu latihan tafakur yang konsisten. Ayat “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (QS Al-Insyirah [94]:1) memberi gambaran bahwa kesiapan menerima puncak wahyu didahului oleh “pelapangan dada” — penyucian batin dan kesiapan psikologis.

Isra’ Mi’raj dengan demikian bukan sekadar anugerah spontan, melainkan hasil pembentukan yang panjang. Sebagaimana dalam teori resonansi fisika, hanya benda yang berada pada frekuensi tertentu yang mampu beresonansi dengan sumber energi. Begitu pula ruh: bila jasmani dan rohani selaras, seseorang siap menerima pancaran daya dari Tuhan melalui wasilah yang ditetapkan-Nya.


2. Sejarah Awal Kehidupan Nabi dan Pembentukan Ruhani

Muhammad ﷺ lahir di Makkah tahun 570 M, tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Sejak awal hidupnya ditandai cobaan: ayah wafat sebelum beliau lahir, ibu meninggal saat beliau berusia enam tahun, menjadikannya yatim piatu. Kakeknya, Abdul Muthalib, memelihara dengan penuh kasih; kemudian pamannya, Abu Thalib, melanjutkan pengasuhan.

Lingkungan Ka’bah, pusat ibadah sejak Nabi Ibrahim, memberikan orientasi tauhid. Walau masyarakat Quraisy dipenuhi praktik syirik, keberadaan Ka’bah dan tradisi haji tetap menjadi poros spiritual. Dalam psikologi perkembangan, kehadiran figur yang aman (secure base) memungkinkan anak tumbuh dengan rasa terlindungi meskipun lingkungannya penuh tantangan.

Neurosains menjelaskan bahwa masa kanak-kanak adalah periode kritis untuk pembentukan jaringan saraf yang mengatur emosi, moralitas, dan pengendalian diri. Hubungan yang sehat memperkuat area prefrontal yang mengarahkan empati dan kebijaksanaan. Nabi, dengan bimbingan keluarga dan lingkungan yang memuliakan Ka’bah, diasah untuk menjadi pribadi yang berintegritas dan penyayang.

Al-Qur’an mengingatkan: “Tidakkah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu melindungimu?” (QS Ad-Dhuha [93]:6). Perlindungan itu mencakup jasmani dan batin, mempersiapkan beliau menghadapi wahyu dan misi kenabian. Proses pendidikan hidup ini membuktikan bahwa kejernihan ruh tidak datang instan; ia ditempa oleh pengalaman, latihan kesabaran, dan lingkungan yang mendukung nilai luhur.


3. Khalwat di Gua Hira, Turunnya Wahyu, dan Tahap Persiapan

Ketika mendekati usia empat puluh, Nabi ﷺ sering berkhalwat di Gua Hira, merenung (tafakur) dan berdzikir mencari kebenaran. Aktivitas itu melatih fokus dan menyucikan jiwa. Dalam neurosains, praktik kontemplasi atau zikir yang dilakukan konsisten memperkuat jaringan otak yang mengatur perhatian, kesadaran, dan empati (Davidson & Goleman, 2017).

Turunnya wahyu pertama — “Iqra’ bismi rabbika…” (QS Al-‘Alaq [96]:1–5) — adalah momen transisi besar. Malaikat Jibril menjadi wasilah penyampai pesan. Peristiwa pembersihan dada sebelum Mi’raj (riwayat Muslim) juga menegaskan pentingnya penyucian batin untuk menerima daya Ilahi.

Dari sisi biologis, pengalaman spiritual intens sering disertai peningkatan aktivitas sistem limbik dan korteks prefrontal medial, area yang mengatur makna dan pengaturan emosi. Ini menunjukkan korelasi antara kesiapan ruhani dan kesiapan biologis.

Ayat-ayat seperti QS Al-Muzzammil [73]:1–6 mendorong qiyamullail, yang menyeimbangkan tubuh dan jiwa. Tahap ini mirip proses pemanasan dalam ilmu fisika: sistem dipersiapkan agar stabil sebelum menerima energi besar. Khalwat Nabi merupakan “kalibrasi” agar jasad-ruh selaras dalam menghadapi wahyu dan peristiwa Mi’raj.


4. Wasilah, Power Ilahi, dan Analogi Besi–Magnet

Seluruh fase perjalanan Nabi ﷺ memperlihatkan peran wasilah. Jibril, para nabi sebelumnya, dan bahkan Buraq dalam Isra’ adalah sarana yang menghubungkan manusia dengan daya Ilahi. QS Al-Maidah [5]:35 memerintahkan: “Carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya.”

Analogi besi dan magnet menjelaskan hubungan itu. Besi di dalam tanah netral, tak memiliki kekuatan tarik. Ia perlu ditambang, dimurnikan, dicampur logam lain agar kuat. Setelah itu, ketika ditempel pada magnet besar atau dialiri listrik, domain-domain di dalam besi selaras dan besi berubah menjadi magnet yang menarik logam lain.

Begitu pula manusia: potensi jasmani-ruhani yang tersembunyi dibentuk melalui pendidikan, ibadah, dan perjuangan. Setelah disambungkan dengan sumber energi — Allah melalui wasilah seperti Jibril, para nabi, dan syariat — potensi itu menjadi daya yang memancarkan rahmat.

Dalam sains material, magnetisasi terjadi karena atom-atom besi menyelaraskan spin elektronnya di bawah medan eksternal. Dalam dimensi spiritual, “medan” itu adalah bimbingan Ilahi. Zikir yang tekun, syariat yang ditaati, dan niat yang suci menjadikan hati seperti logam yang siap dimagnetisasi, memancarkan energi kebaikan ke sekitar.


5. Perspektif Sains: Gelombang Otak dan Gamma Synchrony

Penelitian neurosains tentang zikir/tafakur (sering disebut meditasi dalam literatur) menunjukkan perubahan bertahap pada gelombang otak:

  • Alpha (8–13 Hz): muncul saat pikiran mulai tenang, tubuh rileks, namun kesadaran tetap waspada.
  • Theta (4–8 Hz): terkait introspeksi, kreativitas, dan kedalaman batin.
  • Gamma (30–100 Hz): muncul pada praktisi yang telah mencapai fokus tinggi, mencerminkan sinkronisasi area otak secara simultan.

Studi Lutz et al. (2004) menemukan peningkatan luar biasa aktivitas gamma pada praktisi zikir/welas asih berpengalaman. Review oleh Lee et al. (2018) menunjukkan gamma synchrony terjadi ketika otak mencapai integrasi tertinggi, menghubungkan area sensorik, emosional, dan kognitif.

Transisi dari alpha ke gamma mencerminkan perjalanan kesadaran: dari relaksasi ke fokus mendalam, lalu ke “penyatuan”. Pada Mi’raj, Nabi ﷺ mengalami keadaan lebih tinggi dari gamma — fana’, hanya Allah yang hadir (QS An-Najm [53]:17–18). Walau sains belum menjangkau dimensi ini, paralel antara sinkronisasi otak dan harmoni ruhani memberi bahasa ilmiah untuk memahami kesiapan jasmani dalam menerima limpahan ruhani.


6. Mi’raj sebagai Puncak Integrasi Jasmani–Ruhani

Isra’ Mi’raj menunjukkan kemampuan tubuh dan ruh berinteraksi dengan dimensi di luar persepsi biasa, dengan izin Allah. Fisika relativitas menjelaskan waktu melambat pada kecepatan tinggi; teori medan kuantum menggambarkan realitas sebagai jaringan energi yang saling terkait. Semua ini memberi ilustrasi bahwa alam lebih luas daripada yang dapat diukur indera.

Dalam Mi’raj, Nabi ﷺ menempuh tujuh langit, bertemu para nabi, hingga Sidratul Muntaha. Di sana beliau mencapai fana’: kesadaran total kepada Allah. Perjalanan ini adalah integrasi paripurna antara jasad yang suci, ruh yang ditopang wahyu, dan pikiran yang fokus.

Bagi umat, Mi’raj adalah peta ruhani: memulai dari iman, berlatih ibadah dan akhlak, lalu menyelaraskan tubuh dan jiwa dengan bimbingan yang benar. Walau tidak identik dengan pengalaman Nabi, manusia dapat meraih “mi’raj hati” — kedekatan dengan Allah yang membawa kedamaian dan manfaat bagi semesta.


7. Gamma Synchrony dalam Kehidupan: Jalan Praktis

Gamma synchrony tidak hanya milik penelitian laboratorium. Dalam kehidupan sehari-hari, zikir, shalat khusyuk, dan tafakur dapat melatih otak dan hati untuk selaras. Langkah praktis:

  1. Persiapan (Alpha): Duduk tenang, membaca basmalah, mengatur napas.
  2. Pendalaman (Theta): Memusatkan hati pada kalimat tauhid atau ayat Qur’an, menumbuhkan rasa syukur dan kasih.
  3. Sinkronisasi (Gamma): Saat fokus dan kehadiran hati maksimal, lahir kejernihan dan kedamaian mendalam.

Seperti penjelasan Braboszcz et al. (2017), praktisi yang rutin mengalami gamma synchrony lebih besar. Ini memperkuat kesadaran, empati, dan keseimbangan emosional. Bagi muslim, gamma synchrony bukan sekadar fenomena biologis; ia adalah buah zikir dan tafakur yang dilakukan dengan adab, menyalurkan daya Ilahi ke seluruh perilaku.


8. Kesimpulan

Isra’ Mi’raj adalah puncak perjalanan jasmani dan ruhani Nabi Muhammad ﷺ. Sejarah hidup, latihan spiritual, wahyu, dan bimbingan malaikat menjadi rangkaian yang berpadu dengan izin Allah.

Sains eksakta — dari relativitas hingga neurosains — memberi lensa tambahan untuk melihat bagaimana tubuh dan pikiran dapat berada dalam keadaan sinkron menuju pengalaman transenden. Gamma synchrony adalah ilustrasi ilmiah tentang keselarasan itu: seluruh sistem saraf bekerja serempak, mendukung kesiapan batin untuk menerima limpahan rahmat.

Seperti besi yang dimagnetisasi oleh medan kuat, manusia yang ditempa disiplin lahir-batin, disucikan dengan zikir, dan disambungkan ke daya Ilahi melalui wasilah dapat memancarkan rahmat bagi semesta (rahmatan lil-‘alamin). Perjalanan ini menuntut ketekunan, keseriusan, dan kesiapan menerima bimbingan, sebagaimana Nabi ﷺ tunjukkan sepanjang hidupnya.

Namun keselarasan itu memerlukan wasilah yang benar. Wasilah adalah saluran yang menyalurkan daya Ilahi dari “ruang kosong” yang berserakan menjadi energi positif yang bermanfaat. Tanpa wasilah yang sah, meskipun seseorang menempuh latihan panjang dan memahami banyak teori, yang lahir hanya kepintaran kata-kata tanpa kekuatan yang meneguhkan.

“Power” bisa datang dari berbagai sumber, tetapi tidak semuanya menjadi hak yang sah untuk dipakai. Ada kekuatan yang tampak besar tetapi tidak membawa rahmat — bahkan bisa bersumber dari unsur negatif seperti setan atau iblis. Kekuatan seperti itu tidak memiliki otoritas dari Allah; penggunaannya berisiko menyesatkan, merusak, dan membahayakan diri maupun orang lain.

Isra’ Mi’raj menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menerima daya Ilahi melalui jalur yang benar: dibimbing malaikat Jibril, dengan izin Allah, setelah menjalani persiapan panjang. Itulah rahasia mengapa energi yang diterima menjadi rahmatan lil-‘alamin, rahmat bagi seluruh alam, bukan sekadar “power” yang liar.

Bagi siapa pun yang ingin menempuh jalan spiritual, keberadaan wasilah yang terjamin sanadnya adalah kunci agar energi yang diperoleh tersalurkan secara murni, aman, dan bermanfaat. Tanpa itu, proses hanya menjadi aktivitas intelektual tanpa ruh, atau lebih buruk, menjadi pintu bagi kekuatan yang tidak diberi hak untuk digunakan.


Referensi Pilihan

  • Al-Qur’an: QS Al-Isra [17]:1; QS An-Najm [53]:17–18; QS Al-Hijr [15]:29; QS Al-Muzzammil [73]:1–6; QS Al-Muddatsir [74]:1–7; QS Ad-Dhuha [93]:6; QS Al-Maidah [5]:35.
  • Hadis: Shahih Bukhari & Muslim, Kitab Bad’ul Wahyi; Kitab Isra’ Mi’raj.
  • Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.
  • Ibn Arabi, Futuhat al-Makkiyah.
  • Einstein, Relativity.
  • Brian Greene, The Fabric of the Cosmos.
  • Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems.
  • Michio Kaku, Parallel Worlds.
  • Lutz, A., et al. (2004). Long-term meditators self-induce high-amplitude gamma synchrony during mental practice. PNAS.
  • Braboszcz, C., et al. (2017). High-amplitude gamma oscillations in experienced meditators.
  • Davidson, R., & Goleman, D. (2017). Altered Traits.
  • Lee, D. J., et al. (2018). Neural oscillations underlying meditation. Frontiers in Neuroscience.
  • Duda, M., et al. (2024). Mindfulness meditation is associated with global EEG changes….
  • Siegel, D. (2012). The Developing Mind.

Total Tayangan Halaman

prtc

at26968586

oc6080741

at26998406