"Cari dan dapatkanlah apa yang dibutuhkan oleh dirimu selama engkau masih hidup, jika tidak engkau akan hidup merana (tidak pernah puas) selamanya walaupun engkau telah tiada"
Oleh Ahmad Fakar
Pendahuluan
Artikel ini disusun semata-mata untuk membuka wawasan dan pemahaman, bukan untuk menggurui, menyalahkan, menghakimi, atau meniadakan keyakinan siapa pun. Latar belakang penulisan berangkat dari realitas kehidupan saat ini: banyak orang merasa cukup dengan menjalankan ritual keagamaan—seperti shalat, doa, zikir, meditasi, atau kebaktian—namun sering kali tanpa menyadari bahwa jalan kembali kepada Tuhan memerlukan wasilah.
Wasilah bukan hanya sekadar perantara, tetapi juga penyalur energi Ilahi yang hak dari Allah SWT, sekaligus pembawa petunjuk agar umat kembali kepada Sang Pencipta. Wasilah ini diutus Allah melalui para nabi, rasul, maupun guru rohani otentik yang mendapat izin dari-Nya. Inilah kunci utama agar kekuatan Ilahi senantiasa menang dan mengarahkan manusia kepada kebenaran, sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sejak masa kenabian.
Fenomena yang diisyaratkan Nabi Muhammad ﷺ dalam hadis juga patut direnungkan:
“Akan datang suatu zaman, tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali tulisannya…”(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, no. 1763).
Hadis ini menggambarkan kondisi akhir zaman, ketika banyak orang masih memegang ritual, namun kehilangan esensi dan keterhubungan sejati dengan Allah SWT.
Tujuan Penulisan
Artikel ini bertujuan untuk:
-
Menjelaskan posisi ritual keagamaan dalam perjalanan spiritual.
-
Menguraikan bahwa tanpa wasilah, ritual dapat melahirkan pengalaman spiritual yang tidak bersumber dari Tuhan yang hakiki.
-
Membandingkan pandangan lintas agama besar, dilengkapi ayat, hadis, kitab suci, dan literatur modern.
-
Menghadirkan analisis ilmiah dan psikologis agar lebih mudah dipahami oleh pembaca kontemporer.
-
Memberikan implikasi praktis agar manusia tidak terjebak dalam ilusi spiritual.
Kondisi Saat Ini
Di era globalisasi, spiritualitas sering kali menjadi tren. Banyak orang mencari jalan cepat untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan melalui berbagai metode instan: meditasi praktis, channeling energi, tarot, numerologi, afirmasi, hingga mengikuti kultus individu. Fenomena ini tampak memberi pengalaman batin, tetapi sering kali tidak tersambung dengan Tuhan yang sejati.
Al-Qur’an menegaskan:
“Dia tidak serupa dengan sesuatu apa pun.”(QS. Asy-Syura [42]: 11).
Para ulama sufi juga menjelaskan bahwa Allah SWT “tidak berhuruf dan tidak bersuara,” artinya Dia tidak dapat disamakan dengan huruf, angka, bisikan, atau bentuk fisik apa pun. Tanpa wasilah yang benar, kesadaran manusia dapat terjebak pada penampakan semu—misalnya huruf-huruf gaib, angka, simbol2, bisikan, penampakan atau ramalan—yang tampak nyata dalam pengalaman batin, namun sesungguhnya tidak berasal dari Tuhan Yang Hakiki.
- Al-Qur’an, QS. Al-Maidah [5]: 35: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri (wasilah) kepada-Nya…”
- Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyah, menjelaskan bahwa hubungan dengan Tuhan membutuhkan pembimbing rohani yang terhubung kepada-Nya.
- Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (1989), menguraikan bahwa pengalaman spiritual yang otentik selalu membutuhkan jalur tradisi yang sahih, bukan sekadar ritual formal.
- Karen Armstrong, The Case for God (2009), mengkritisi tren spiritual modern yang lebih menekankan sensasi pribadi daripada keterhubungan dengan Yang Transenden.
Ritual Keagamaan: Penting tapi Belum Cukup
Ritual adalah fondasi setiap agama.
Dalam Islam ada shalat, zikir, doa, puasa, membaca Al-Qur’an. Dalam Kristen ada
doa, misa, pengakuan dosa. Dalam Hindu ada puja, japa (mantra), meditasi. Dalam
Buddha ada meditasi, membaca Tripitaka, praktik sila.
Namun, ritual-ritual ini jika dilakukan
tanpa wasilah dapat menghasilkan:
- Zikir
→ bisa memunculkan bisikan batin yang tidak berasal dari Tuhan.
- Shalat atau doa
→ menjadi rutinitas mekanis tanpa makna.
- Meditasi
→ bisa membuka kesadaran semu yang menimbulkan ilusi atau halusinasi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beramal tanpa petunjuk
dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa ibadah
harus melalui jalur otentik, bukan sekadar ritual kosong.
Pentingnya Wasilah dalam Semua Tradisi
Hampir semua agama besar mengakui adanya perantara (wasilah) antara manusia dengan Tuhan:
-
Islam: “Carilah wasilah kepada-Nya” (QS. Al-Maidah [5]: 35).
-
Kristen: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).
-
Hindu: “Datanglah kepada guru yang telah melihat kebenaran” (Bhagavad Gita 4:34).
-
Buddha: “Engkau harus berusaha; Tathagata hanyalah penunjuk jalan” (Dhammapada 276).
Semua ajaran ini menunjukkan bahwa ritual saja tidak cukup; dibutuhkan bimbingan wasilah agar perjalanan spiritual benar-benar tersambung kepada Sumber Ilahi.
Dalam pemahaman ini, wasilah bukan hanya berfungsi sebagai pembimbing, melainkan juga sebagai penyalur dan penyambung. Mereka menyampaikan bukan hanya petunjuk, tetapi juga energi Ilahi yang hak dari Allah SWT. Sebab tanpa energi yang murni dari Allah, bisa saja manusia menerima “daya” dari unsur lain—entitas gaib, sugesti diri, atau energi semu—yang justru menyesatkan.
Analogi Listrik dan Kabel
Hal ini dapat dianalogikan dengan listrik dan kabel.
-
Listrik tidak sama dengan kabel; listrik tetap listrik, kabel tetap kabel.
-
Namun listrik membutuhkan kabel agar sampai ke tujuan: menyalakan lampu, mendinginkan AC, menggerakkan motor, mobil, atau peralatan lainnya.
-
Sebaliknya, kabel tanpa aliran listrik tidak memiliki daya apa-apa.
Keduanya berbeda, tetapi harus bersinergi agar energi sampai dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Begitu pula dengan wasilah. Para nabi, rasul, maupun pewaris dan penerusnya berbeda dengan Tuhan, namun mereka adalah jalur yang Allah pilih untuk menyalurkan daya, petunjuk, dan energi Ilahi kepada umat manusia. Allah bersifat kekal dan abadi, sementara para wasilah datang silih berganti secara estafet dari generasi ke generasi, membawa cahaya dan daya dari Allah agar tetap sampai kepada manusia hingga saat ini.
Al-Qur’an, QS. An-Nahl [16]: 36: “Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.”
-
Al-Hakim al-Tirmidzi, Khatm al-Awliya, menjelaskan bahwa wasilah hadir secara berkesinambungan sebagai penjaga kesinambungan cahaya kenabian.
-
Huston Smith, The World’s Religions (1991), menegaskan bahwa semua agama besar menekankan pentingnya sosok guru, nabi, atau figur perantara agar manusia tidak tersesat dalam pengalaman spiritual pribadi.
Realita
Kehidupan Modern
Masalah-masalah spiritual yang
muncul saat ini:
- Spiritual tanpa agama
(spiritual but not religious).
- Ilusi pengetahuan gaib lewat tarot, numerologi, channeling.
- Kultus individu
yang menolak nabi/rasul namun mengaku mendapat wahyu pribadi.
- Materialisme ilmiah
yang menolak spiritualitas sama sekali.
Tanpa filter wasilah, ritual dan
pengalaman spiritual ini bisa melahirkan keyakinan palsu yang menyesatkan.
Grafik:
Hubungan Ritual, Wasilah, dan Kesadaran Ilahi
[Manusia] → Ritual Keagamaan (zikir, shalat, doa, meditasi)
↘ tanpa wasilah → Penampakan semu (bisikan, angka, ramalan,
ilusi)
↘ dengan wasilah → Kesadaran Ilahi (sampai kepada Tuhan Yang
Hak)
Perspektif
Ilmiah dan Psikologis
Psikologi modern menjelaskan
fenomena spiritual sebagai peak experience (Maslow), yaitu momen intens
yang terasa transendental. William James menyebutnya sebagai “varieties of
religious experience.” Neurosains bahkan menemukan bahwa stimulasi otak bisa
menimbulkan sensasi religius.
Namun, pengalaman biologis semacam
itu belum tentu berarti “tersambung dengan Tuhan.” Di sinilah peran wasilah: ia
menjadi filter agar manusia tidak salah menafsirkan sensasi batin
sebagai kebenaran mutlak.
Implikasi
Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagaimana cara membedakan pengalaman
spiritual yang otentik dengan ilusi?
- Lihat sumbernya
→ apakah sesuai kitab suci dan tuntunan nabi/rasul?
- Perhatikan hasilnya
→ apakah menambah kerendahan hati dan kebaikan, atau justru kesombongan
dan klaim diri?
- Cari pembimbing rohani otentik → guru yang tersambung ke tradisi kenabian atau suci,
bukan guru instan.
- Ukur dengan logika sehat dan ilmu → pengalaman yang bertentangan dengan akal sehat dan
etika biasanya bukan berasal dari Tuhan.
Dengan langkah ini, manusia dapat
menjaga agar ritual dan kesadaran spiritualnya tidak terjebak pada penampakan
semu.
Kesimpulan
- Ritual keagamaan adalah penting, tetapi tidak cukup
untuk mengantarkan hamba kembali kepada Tuhan tanpa wasilah.
- Wasilah adalah penghubung Ilahi yang menjamin sambungan
manusia kepada Tuhan berjalan pada jalurnya.
- Tanpa wasilah, ritual dapat melahirkan penampakan semu
berupa huruf, angka, bisikan, atau ramalan yang bukan dari Tuhan.
- Semua agama besar menekankan pentingnya wasilah atau
guru sebagai jalan menuju Tuhan.
- Ilmu modern memperkuat bahwa pengalaman spiritual bisa
bersumber dari otak atau sugesti, sehingga butuh filter keagamaan yang
otentik.
- Implikasi praktisnya: umat beragama perlu menyatukan
ritual dengan bimbingan wasilah agar sampai kepada Tuhan yang sejati.
👉 Artikel ini disusun hanya untuk membuka wawasan, bukan menghakimi. Harapannya, pembaca menyadari bahwa perjalanan spiritual bukan hanya soal ilmu dan ritual, tetapi juga soal keterhubungan dengan sumber Ilahi melalui jalan yang telah ditetapkan-Nya.
Daftar Pustaka
1.
Al-Qur’an dan Hadis
- Al-Qur’an Al-Karim, Departemen Agama Republik
Indonesia, 2005.
- HR. Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq.
- HR. Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Iman*.
- HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab
al-Muqaddimah.
2.
Kitab Suci Agama Lain
- Alkitab (Perjanjian Lama & Baru), Lembaga Alkitab
Indonesia, 2011.
- Bhagavad Gita,
Swami Prabhupada (trans.), The Bhaktivedanta Book Trust, 2000.
- Dhammapada,
Narada Thera (trans.), Buddhist Publication Society, 1993.
- Tripitaka
(Pali Canon), Vipassana Research Institute, 2008.
3.
Literatur Keislaman
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumuddin. Dar
al-Fikr, 2002.
- Ibn Taimiyah. Majmu’ Fatawa. Dar al-Wafa, 1998.
- Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah. Lentera Hati,
2005.
4.
Literatur Kristen
- Augustine, St. Confessions. Oxford University
Press, 2008.
- Thomas Aquinas. Summa Theologica. New Advent
Publishing, 2012.
- Lewis, C.S. Mere Christianity. HarperCollins,
2001.
5.
Literatur Hindu & Buddha
- Radhakrishnan, S. The Principal Upanishads.
HarperCollins, 1992.
- Vivekananda, Swami. Jnana Yoga. Advaita Ashrama,
2003.
- Walpola Rahula. What the Buddha Taught. Grove
Press, 1974.
6.
Literatur Ilmiah
- James, William. The Varieties of Religious
Experience. Longmans, Green, 1902.
- Maslow, Abraham. Religions, Values, and
Peak-Experiences. Penguin, 1994.
- Koenig, Harold G. Handbook of Religion and Health.
Oxford University Press, 2012.
- Capra, Fritjof. The Tao of Physics. Shambhala
Publications, 1991.
