Pendahuluan
“Indonesia Emas 2045” adalah sebuah
visi besar: sebuah harapan bahwa tepat seratus tahun setelah Proklamasi
Kemerdekaan 1945, Indonesia akan tumbuh menjadi bangsa yang maju, adil, makmur,
berdaulat, dan disegani di kancah dunia. Konsep ini lahir bukan hanya untuk
menyemangati, tetapi untuk menuntun arah pembangunan jangka panjang bangsa.
Namun, pertanyaan yang selalu muncul
adalah: apakah visi ini sungguh bisa terwujud, atau hanya akan menjadi slogan
indah yang berlalu bersama waktu?
Tulisan ini dimaksudkan sebagai
refleksi intelektual dan inspirasi. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk
membuka wawasan dan mengajak pembaca – terutama para pemegang otoritas dan
wakil rakyat – agar tidak menjadikan “Indonesia Emas” sebatas jargon politik,
tetapi sungguh menjadi realitas yang lahir dari kesungguhan kolektif bangsa.
Kondisi
Saat Ini: Realitas yang Menguji
1.
Kemiskinan dan Kesenjangan
Menurut data Badan Pusat Statistik
(BPS), tingkat kemiskinan Indonesia per Maret 2023 berada di angka 9,36%
atau sekitar 25,9 juta jiwa. Meski menurun dibanding satu dekade lalu,
angka ini tetap tinggi.
Kesenjangan pendapatan juga masih
tajam. Indeks Gini Indonesia pada 2023 berada di angka 0,388 – jauh dari
kondisi pemerataan. Artinya, segelintir orang menguasai sebagian besar
kekayaan, sementara banyak yang hidup pas-pasan.
2.
Pemerataan Infrastruktur
Pembangunan infrastruktur memang
masif: jalan tol, bandara, pelabuhan. Namun, pemerataan belum sepenuhnya
tercapai. Masih banyak desa yang sulit air bersih, layanan kesehatan, dan
pendidikan dasar. Pembangunan sering condong ke kota besar, bukan ke daerah
tertinggal.
3.
Pendidikan
Data PISA 2022 menunjukkan pelajar
Indonesia masih di bawah rata-rata OECD dalam literasi, numerasi, dan sains.
Kurikulum sering berubah, kualitas guru belum merata, dan fasilitas sekolah
banyak yang terbatas. Perguruan tinggi pun lebih fokus pada formalitas akademik
ketimbang riset yang memberi solusi nyata.
4.
Korupsi dan Krisis Moral Pejabat
Menurut Transparency International,
Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2023 berada di skor 34/100,
peringkat 115 dari 180 negara.
Korupsi bukan hanya menggerogoti
keuangan negara, tetapi juga mematikan moral bangsa. Banyak pejabat terjebak
dalam gaya hidup hedonis dan lupa bahwa amanah jabatan adalah untuk rakyat.
5. Budaya
Gaya hidup konsumtif semakin menjadi
tren, terutama di kelas menengah-atas. Keberhasilan sering diukur dari
kepemilikan barang mewah, bukan kontribusi sosial. Fenomena flexing di media
sosial memperparah kesenjangan sosial, menimbulkan rasa iri dan keterbelahan.
6.
Peran Ulama, Guru, Akademisi, Cendikiawan dan lainnya
Ulama, guru, akademisi, dan
cendekiawan sesungguhnya adalah pilar moral bangsa. Mereka diharapkan menjadi
penjaga nurani, penuntun arah, serta penggerak perubahan sosial. Namun,
realitas menunjukkan bahwa peran mereka sering kali melemah. Ada yang terjebak
dalam politik praktis, ada yang memilih diam, dan ada pula yang mendukung tanpa
memberikan daya dorong nyata bagi perubahan.
Walaupun banyak
dari mereka mendukung cita-cita Indonesia Emas, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dukungan itu sering terasa tumpul dan kurang berdampak. Energi
bangsa terbuang percuma karena dukungan moral dan intelektual tidak diiringi
dengan tindakan yang konkret untuk memperbaiki karakter, mental, dan moralitas
bangsa. Bahkan, dalam beberapa kasus, dukungan yang seharusnya membawa
pencerahan justru memperkeruh keadaan sehingga masyarakat semakin kehilangan
kepercayaan.
Oleh karena itu,
diperlukan langkah perbaikan agar keterlibatan mereka benar-benar berdampak
langsung:
1. Mengembalikan Fungsi Moral – Ulama, guru, dan akademisi harus
kembali pada peran utamanya: menjadi suara kebenaran dan keadilan, bukan alat
kepentingan politik atau ekonomi sesaat.
2. Menyatukan Ilmu dan Integritas – Ilmu pengetahuan tanpa moral hanya
melahirkan kecerdasan yang dingin. Sebaliknya, moral tanpa ilmu hanya
menghasilkan retorika. Keduanya harus berjalan beriringan.
3. Memperkuat Kepemimpinan Intelektual – Cendekiawan dan akademisi perlu
tampil lebih berani menyuarakan kritik konstruktif, memberi solusi, dan menjadi
teladan keberanian moral.
4. Membumikan Nilai Spiritual dan Etika – Ulama dan tokoh agama perlu
menghadirkan ajaran spiritual yang relevan dengan konteks zaman, yang mendorong
transformasi karakter bangsa, bukan sekadar ritual formal.
5. Kolaborasi Nyata dengan Masyarakat – Keterlibatan para tokoh ini harus
menyentuh langsung masyarakat: melalui pendidikan yang membebaskan, penelitian
yang aplikatif, dan pengabdian yang memberdayakan.
Dengan cara ini,
keterlibatan ulama, guru, akademisi, dan cendekiawan akan kembali memiliki
kekuatan transformatif. Mereka tidak hanya menjadi simbol moral, tetapi motor
perubahan yang menggerakkan bangsa menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
7.
Kekuatan Elite Global
Globalisasi membawa tantangan
sekaligus peluang besar bagi Indonesia. Kehadiran elite global dalam bentuk
investasi, utang luar negeri, maupun penguasaan sumber daya sering kali
memengaruhi arah kebijakan ekonomi dan politik nasional. Bila tidak disikapi
dengan hati-hati, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar dan penyedia bahan
mentah, bukan pemain utama dalam percaturan dunia.
Namun, investasi – baik dari dalam
negeri maupun asing – tetap dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Persoalannya adalah bagaimana investasi tersebut dikelola. Jika dilakukan
secara benar, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat, maka investasi
dapat menjadi salah satu motor penggerak menuju Indonesia Emas 2045.
Akan tetapi, investasi semata
bukanlah faktor penentu utama. Kunci keberhasilan terletak pada perubahan
karakter dan mental bangsa, terutama para pemegang otoritas. Mereka dituntut
untuk menjalankan strategi pembangunan dengan keadilan, integritas, dan
kesadaran spiritual. Dengan cara itu, pembangunan tidak hanya menghasilkan
pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghindarkan bangsa dari konflik sosial
maupun kerusakan lingkungan.
Kemiskinan
dan Konflik Sosial
Kemiskinan sering dianggap sebagai
penyebab utama konflik. Namun kenyataannya, kemiskinan hanyalah pemicu,
bukan akar masalah. Konflik lebih sering muncul karena:
- Hak Warga yang Tidak Dipenuhi
Rakyat marah bukan karena miskin, tetapi karena merasa
haknya diabaikan.
- Perampasan oleh yang Berkuasa
Banyak konflik agraria muncul karena tanah rakyat diambil
alih tanpa ganti rugi adil.
- Penyalahgunaan Kekuatan
Ketika kelompok tertentu merasa lebih berkuasa, mereka
menindas yang lebih lemah, melahirkan perlawanan.
- Kemiskinan sebagai Faktor Kerentanan
Orang miskin lebih mudah dimanipulasi, diprovokasi, atau
diperalat dalam konflik.
Dengan demikian, akar konflik di
Indonesia adalah ketidakadilan dan perampasan hak, sementara kemiskinan
memperparah kondisi dengan membuat rakyat lemah dan rentan.
Apakah
Indonesia Emas Hanya Slogan?
Indonesia Emas berpotensi menjadi sekadar
jargon bila:
- Kebijakan selalu berganti tiap rezim tanpa konsistensi.
- Elit lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada
bangsa.
- Polarisasi sosial semakin tajam.
- Ekonomi tetap bergantung pada asing.
Bagaimana
Cara Mencapainya
- Revolusi Mental dan Moral
Integritas, kejujuran, dan pengabdian harus jadi fondasi.
Pendidikan karakter mesti nyata, bukan formalitas.
- Pendidikan Berkualitas dan Merata
Akses pendidikan unggul harus sampai ke pelosok. Guru perlu
ditingkatkan kualitas dan kesejahteraannya.
- Ekonomi Berdaulat
Tidak boleh hanya bergantung pada sumber daya alam. Harus
ada diversifikasi, teknologi, dan riset. UMKM harus diperkuat.
- Demokrasi Substantif
Demokrasi bukan sekadar pemilu, tetapi keadilan sosial.
Hukum harus tegak tanpa pandang bulu.
- Keadilan Sosial
Pembangunan harus merata, tidak Jawa-sentris, dan berpihak
pada rakyat kecil.
- Kesadaran Spiritual
Indonesia bangsa religius. Visi besar ini harus dibingkai
dengan nilai ketuhanan. Bukan menunggu nabi baru, tetapi melahirkan pemimpin
berjiwa profetik: jujur, adil, dan berpihak pada rakyat.
Refleksi:
Tuhan dan Indonesia Emas
Apakah Tuhan perlu campur tangan?
Jawabannya: ya, melalui manusia itu sendiri. Tuhan bekerja lewat
kesadaran kolektif rakyat. Bila bangsa ini jujur, bersatu, dan tulus, keberkahan
akan turun. Bila sebaliknya, kehancuranlah yang datang.
Kita tidak menunggu nabi atau rasul
baru, tetapi membutuhkan pemimpin berjiwa profetik – yang berani menegakkan
keadilan, menjaga nurani bangsa, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Kesimpulan
“Indonesia Emas 2045” bisa menjadi:
- Slogan kosong,
bila hanya retorika.
- Realita besar,
bila ada perubahan nyata.
Kunci suksesnya ada pada:
- Revolusi moral.
- Pendidikan berkualitas.
- Ekonomi berdaulat.
- Demokrasi substantif.
- Keadilan sosial.
- Kesadaran spiritual kolektif.
Jika semua elemen bangsa bersatu –
pemerintah, rakyat, akademisi, ulama, pengusaha, generasi muda – maka
“Indonesia Emas 2045” bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang akan dikenang
dunia.